Ngampung Dolan

Sejatine Urip Iku Mung Ngampung Dolan

Sunday, November 19, 2017

Masjid Roudhotul Muchlisin - Jember

Sudah menjadi gambaran umum bahwa istilah wisata religi lebih dahulu ditujukan kepada para jamaah khususnya ahli sunnah wal jamaah yang rajin mengunjungi makam-makam para wali.

Entah sejak kapan istilah wisata religi kini bergeser pada kegiatan yang tak hanya "ziarah makam" tapi juga mengunjungi masjid-masjid yang memiliki bangunan arsitektur megah baik di dalam maupun luar negeri.

Indonesia yang notabene hampir sembilan puluh persen penduduknya muslim dan memiliki ribuan atau bahkan puluhan ribu masjid di seluruh penjuru negeri, menjadikan wisata religi tumbuh makmur disini.

Pilar Megah Masjid Roudhotul Muchlisin Jember

Dampaknya banyak agen tour & travel menawarkan paket-paket wisata mengunjungi masjid yang dinilai unik hingga megah pada kelompok-kelompok pengajian dan ibu-ibu PKK di berbagai kampung. 

Selain itu ta'mir masjid juga berlomba-lomba menggalang dana dari jamaahnya untuk memugar masjid yang nampak kusam agar menjadi bangunan yang mewah bak istana meniru gaya arsitektur masjid di Turki, Persia dan Timur Tengah.

Pilar Bagian Dalam Masjid dari Lantai 2

Tak jarang kita temui pos-pos amal untuk pembangunan masjid, khususnya sepanjang jalan daerah tapal kuda (Probolinggo - Karesidenan Besuki), yang "beroperasi" meminta sedekah dari pengguna jalan raya demi terwujudnya pembangunan masjid meski sudah dilarang pemerintah.

Tujuannya tak lain adalah menarik orang-orang untuk giat pergi ke masjid juga sebagai tanda menaati ayat Allah tentang "memakmurkan masjid" seperti yang termaktub pada Surat At Taubah Ayat 18.

"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” 

Ironisnya kegiatan "memakmurkan masjid" hanya sampai pada kegiatan fisiknya saja, dari 100% masjid yang dibangun di Indonesia kurang dari 5% yang masjidnya semarak siang dan malam dengan berbagai kegiatan kerohanian. Masjid hanya ramai dikunjungi jamaahnya ketika hari-hari tertentu saja dan pada bulan suci Ramadhan, itupun hanya diawal dan akhir Ramadhan.

Mojok di Pojokan Masjid

Sungguh sangat disayangkan ketika Indonesia sangat ramah pada pembangunan masjid dimana-mana, tapi tidak dibarengi bertumbuhnya kegiatan masyarakat yang "memakmurkan ruhiyah" dalam rangka menyatukan ummat  serta sebagai pusat perbaikan akhlak (baca : revolusi mental).

Masjid di Indonesia justru menjadi alat baru untuk "memecah belah umat" karena perbedaan aliran dan pemahaman yang berbeda-beda tentang Islam itu sendiri. Jika tidak sama alirannya nggak boleh sembahyang di masjid ini, nggak mau menjadi makmum kepada imam yang berbeda komunitas, bahkan parahnya lagi masjid menjadi tempat kampanye politik terselubung.


Nah dimanakah peran pemerintah Indonesia melalui departemen agama seharusnya,. dalam menghadapi issue tentang pembangunan masjid dewasa ini? Adakah aturan yang jelas tentang pembangunan masjid di sebuah kampung, kecamatan, kabupaten hingga ibu kota?


Bukan berarti pemerintah lantas membatasi pembangunan masjid di Indonesia seperti halnya kasus yang terjadi di Negara Prancis baru-baru ini. Sebuah masjid dialih-fungsikan menjadi perpustakaan oleh pemerintah setempat sehingga warga muslim di kota itu kesulitan untuk melaksanakan ibadah, bahkan ijin untuk membuat masjid baru semakin dipersulit. 

Akhirnya mereka sholat Jumat berjamaah di jalan raya karena tidak mempunyai masjid, anehnya di Indonesia terjadi sebaliknya, banyak masjid tapi sholat jumat malah di jalan raya .. ehh jilid berapa tuh ..? :p

Fungsi Masjid dan Wisata Religi

Masjid menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bangunan tempat beribadah bagi umat beragama Islam. Masjid merupakan kata serapan dari Bahasa Arab yang akar katanya berasal dari sajada bermakna tunduk dan patuh serta taat, masjid atau masjada memiliki arti sebagai tempat bersujud.

Megahnya Masjid Roudhotul Muchlisin Jember

Merujuk pada arti kata tersebut tentunya hal-hal yang berkaitan dengan masjid secara otomatis berkaitan dengan Tuhan, karena hanya kepada Allah saja kita tunduk dan patuh, dan satu-satunya Dzat yang berhak kita sembah adalah Allah dengan cara sujud, yaitu posisi menempelkan dahi, dua telapak tangan, dua lutut dan seluruh jari-jari kaki pada lantai/tanah.

Lalu bagaimana dengan "wisata religi" yang mengunjungi masjid? Apa sebenarnya tujuan mengunjungi masjid terutama masjid dengan arsitektur megah, unik, dan indah? dan mungkin pertanyaan ini juga perlu saya tujukan pada diri sendiri, karena seringnya ke Masjid untuk -maaf- numpang pipis, istirahat klesetan ketika berkendara, berteduh dari hujan, atau mungkin numpang ganti baju di kamar mandi masjid.

Ruang Wudhu Perempuan

Contohnya ketika saya berkendara ke Jember beberapa waktu lalu, saya berhenti sejenak di masjid Roudhotul Muchlisin yang berada di sisi kanan Jalan Raya Gajah Mada no 180, Kaliwates ini kalau dari arah Kota Jember.

Sudah lama saya melihat bangunan yang sedang dipugar megah ini, tapi baru kali itu saya akhirnya memutuskan berhenti sejenak karena ingin melihat "isi masjid" sekalian sholat dzuhur sebelum melanjutkan perjalanan ke arah Tawang Alun.

Jejeran Motor Pengunjung Masjid

Beritanya masjid ini dulu tidak semegah sekarang, sejak 2014 masjid ini mulai dipugar dengan gaya arsitektur yang condong meniru masjid Turki - Maroko. Masjid ini dibangun di lahan seluas kurang labih 2.000 meter persegi dan kabarnya nanti akan mempunyai 3 lantai dilengkapi dengan perpustakaan juga penginapan bagi musaffir yang kebetulan lewat Kota Jember.

Ketika saya berkunjung masih tampak beberapa pekerja bangunan yang bekerja menyelesaikan proyek di beberapa sisi masjid. Lokasi parkir yang luas dan foodcourt dengan aneka pilihan makanan menjadikan masjid ini layaknya one stop "praying" center di Kota Jember.

Food Court yang masih tutup

Saya dibuat takjub bukan hanya oleh bangunan utama masjid ini tapi juga tempat wudhunya yang menurut saya tergolong mewah, karena semua kamar mandinya menggunakan closet duduk dan ada cermin besar di balik pintunya. 

Ruang wudhu yang bersih, luas  juga banyak kran air yang bisa digunakan, bahkan lantainya juga bersih sampai-sampai bisa dipakai sholat juga, cermin besar dipasang pada dinding sebelum pintu keluar, untuk memudahkan jamaah perempuan memasang hijab atau merapikan pakaiannya .. coba bayangkan .. perempuan mana yang tidak akan bersuka cita ketika bertemu cermin?

Tempat Wudhu Perempuan

Selain itu  juga tersedia loker gratis untuk menyimpan barang-barang ketika hendak berwudhu, airnya bersih dan segar mengalir dengan lancar, tapi semoga yang menggunakan air tidak berlebihan dan ada proses daur ulang air wudhu di masjid ini .. semoga!

Closet Duduk disetiap kamar mandi

Selepas berpuas hati menyegarkan wajah dengan air wudhu saya bergegas menuju masjid, sudah banyak orang yang juga menunaikan sholat dzuhur tapi tidak sedikit yang hanya duduk-duduk berfoto ria kemudian mengunggahnya di media sosial sebagai bukti "I was here"

Penampakan :D di kamar mandi

Saya juga melihat ibu-ibu yang sedang asyik ngobrol dengan suara yang cukup terdengar dari pojok masjid sembari klesetan melepas lelah. Langsung saya ambil mukenah dan melaksanakan sholat dzuhur tanpa tahiyyatul masjid bahkan lupa membaca doa masuk masjid, entah tadi kaki mana dulu ya yang saya langkahkan, saya lupa adab memasuki masjid karena terpesona keindahan masjid yang begitu wow!

Shaft Perempuan yang Sepi, ramenya di shaft belakang :D

Selepas salam dan doa ala kadarnya segera saya menuju lantai dua dan melihat-lihat suasana masjid karena penasaran. Dari lantai dua nampak jelas bangunan ini begitu megah dengan ukiran lafadz al quran yang mengitari pilar-pilarnya. Plafon yang tinggi menjadikan masjid ini sejuk tanpa AC, dari jendela-jendela besarnya kita bisa melihat pemandangan Kota Jember yang sedang tertutup awan mendung di sebelah timur.

Lagi-lagi saya temukan beberapa orang, kali ini jamaah laki-laki, yang tertidur pulas di pojok masjid lantai dua ini. Tidurnya angkler (nyenyak) sekali tanpa ada rasa khawatir atau sungkan sedikitpun pada yang punya rumah, seolah sedang tidur di kamar hotel bintang lima.

Angkler Balapan Ngorok di Masjid

Hmm sebelum saya meninggalkan masjid nampak di serambi masjid seorang ibu yang dengan santainya ngglethak (rebahan) bersama bayinya yang sedang menyusu disambi asyik bermain handphone tanpa selimut atau kain yang menutupi bagian payudaranya. 

Duh Gusti .. jika menyusui adalah bentuk lain dari ibadah kepada Mu, maka ampunilah kami yang terlalu gampang menilai orang lain hanya karena perangainya, tapi apakah pantas melakukan itu di Rumah-Mu yang seharusnya suci dari hadas, suci dari niatan, dan suci dari perbuatan?

Seharusnya pihak ta'mir masjid juga memikirkan untuk membangun ruang nursery khusus bagi ibu-ibu yang ingin mengganti popok atau menyusui bayinya dengan aman dan nyaman.

Ngglethak dan Menyusui di Masjid

Akhirnya saya meninggalkan masjid dengan banyak pertanyaan dalam hati, apakah masih perlu membangun masjid yang megah dan indah akan tetapi kehilangan esensi dari fungsi masjid itu sendiri? atau apakah masih perlu wisata religi mengunjungi masjid-masjid megah hanya untuk sekedar ber-selfie ria kemudian pamer di sosial media? 

Sampai di parkiran motor ada satu lagi pertanyaan yang meloncat-loncat di kepala saya "apakah memang perlu membangun masjid seindah mungkin agar minimal ada yang datang untuk sekedar melihat meski tidah untuk sholat?"

Bagaimana menurut anda?

Referensi Tulisan :
http://www.referensimakalah.com/2012/09/pengertian-masjid-etimologi-dan-semiotik.html
https://almanhaj.or.id/2524-pengertian-masjid.html


Saturday, November 18, 2017


Seumur-umur belum pernah berkunjung ke Perusahaan Tahu, meski sering mendengar cerita sebelum tidur dari ayah tentang pengalaman bekerjanya di pabrik tahu Bondowoso dan bagaimana proses pembuatan tahu ketika saya masih kecil.

Cerita tentang proses pembuatan tahu akhirnya dapat saya visualisasikan dengan sempurna, ketika diberi kesempatan mengantarkan turis asal USA yang sedang mengadakan penelitian tentang tempe di Bondowoso.

Rencana awal kita hanya mengunjungi pabrik tempe untuk melihat proses pembuatannya dari awal hingga selesai dan wawancara dengan pemilik usaha tempe di daerah Lojajar Tenggarang Bondowoso setelah itu kembali ke Surabaya.

Tapi ternyata pemuda yang masih terdaftar sebagai student dari sekolah kulinari di Singapore ini juga bersedia mengunjungi perusahaan tahu. Sebenarnya saya harap-harap cemas, karena saya tidak kenal dengan pemilik pabrik ini dan tidak membuat janji, tapi saya beranikan diri saja mengantarnya kesana dengan modal Bismillah!

Perusahaan tahu ini memang sudah dikenal oleh orang-orang Bondowoso, tergolong pelopor pabrik tahu di Kota Bondowoso, yang telah turun-temurun ke anak cucunya. Pabrik ini dimiliki oleh warga keturunan Tionghwa yang sering dipanggil dengan Om Piet atau Yok Piet.

Tahu Siap Dipasarkan

Saya sendiri baru pertama mengunjungi pabrik ini, meski terbilang tua tapi sayangnya tidak saya temukan nama perusahaan pada direktori perusahaan atau daftar umkm di website Pemerintahan Bondowoso, entah pemiliknya tidak mendaftarkan atau pemerintahannya yang kurang aktif mendata.

Pabrik ini berlokasi di pusat Kota Bondowoso, tepatnya di Jalan Piere Tendean sebelah Kantor Dinas Pengairan dan Pekerjaan Umum Bondowoso. Selain produksi tahu pabrik ini juga menjual galvalum dan ampas tahu untuk pakan ternak. 

Tidak rumit untuk menemukan pabrik ini, karena saya sering lewat jalan ini sepulang dari SMA Negeri 2 untuk menuju rumah saya. Tiba disana kurang lebih sudah hampir pukul 4 sore, segera saya parkir mobil di halaman pabrik dan menanyakan kepada orang yang sedang mengangkut ampas tahu menuju bak truk dimana lokasi pabriknya. 

Proses Penyaringan Bubur Sari Kedelai

Bapak itu mengarahkan saya untuk masuk saja melewati tumpukan kayu bakar yang tertata sangat rapi, kayu ini digunakan untuk merebus bubur tahu setelah proses giling. Saya melewati lorong yang sedikit gelap, dari kejauhan nampak beberapa orang sudah mulai merapikan peralatan, kebanyakan dari mereka adalah laki-laki.

Saya berbicara dengan salah satu dari mereka, menanyakan apakah boleh melihat proses pembuatan tahu. Laki-laki tambun itu mengarahkan saya untuk langsung ke kantor, menemui tacik (panggilan untuk perempuan Tionghwa) untuk meminta ijin.

Duhh.. sedikit berdesir khawatir tidak boleh melihat, tapi ternyata tante yang masih terlihat cantik dan segar meski sudah berumur itu justru memperbolehkan, dan malah minta foto sama si turis .. Nahh! itulah untungnya kalau kita bawa turis, selalu ada "privilage" untuk masuk ke tempat-tempat "terlarang" he he he.


Dari Mana Asal Tahu?

Tahu adalah produk turunan dari kedelai, yang berasal dari daratan Tiongkok. Pertama kali ditemukan oleh Liu An cucu dari Kaisar Han Gouzu, pendiri dinasti Han. (wikipedia)

Kata tahu berasal dari Bahasa Hokkian, tao-hu, teu-hu, tokwa. Tao atau Teu berarti kedelai, sedangkan hu dan kwa berarti lumat, secara harfiahnya tahu berarti kedelai yang dilumatkan.

Tempat Pemecahan Kulit Ari dari Kedelai

Entah sejak kapan Indonesia mengenal tahu, tapi berdasarkan hasil browsing tentang produk tahu ini, Tahu Kediri Bah Kacung adalah tahu yang tercatat paling tua di Indonesia, diproduksi sejak tahun 1912.

Tahu Bah Kacung dikenal dengan dengan sebutan Tahu Takwa, dulu saya pikir sebutan tahu takwa itu karena yang jual muslim he he he, pakai baju takwa (baju koko) ternyata setelah saya menulis tentang tahu, takwa berarti tahu.

Pernah dengar tawa atau tahu wa kan? Makanan ini semacam ronde tapi isinya dari irisan kembang tahu dengan kuah jahe, di Surabaya makanan ini sangat terkenal kendati udara di Surabaya cukup panas untuk menikmati kudapan ini.

Proses Pembuatan Tahu

Kami tiba sudah sore di pabrik tahu Yuk Piet, proses pembuatan tahu sudah selesai dan tahu sudah banyak yang diambil pelanggan untuk dijual ke pasar. Menurut salah satu pekerja proses pembuatan tahu dimulai dari jam 5 pagi, dan selesai jam 4 sore.

Persiapan Kedelai untuk Hari selanjutnya
Proses awal dimulai dengan perendaman kedelai, nampak diruangan jejeran ember karet berisi kedelai yang sudah ditakar untuk persiapan proses tahu besok pagi. Setelah dicuci bersih kedelai direndam dengan air suhu normal selama kurang lebih 1 jam.

Kemudian dicuci lagi untuk membersihkan kulit arinya lalu ditirskan hingga atus, selanjutnya disiram air hangat dan ditumbuk. Setelah halus dan menjadi bubur kedelai langkah selanjutnya adalah menyaring bubur kedelai menggunakan kain blacu, tampung airnya pada bak yang telah disediakan.


Ampas bubur kedelai yang sudah disaring bisa digunakan sebagai pakan ternak atau bahan tempe gembos, sedangkan sari kedelainya dimasak hingga mendidih dengan api kecil kurang lebih 30 menit. 

Pada proses pendidihan akan muncul banyak busa dari sari kedelai, proses ini juga berfungsi untuk menon-aktifkan zat antinutrisi dari kedelai serta meningkatkan nilai cernanya. Selama proses pendidihan ada baiknya sari kedelai juga diaduk-aduk agar busanya tidak meluap, setelah mendidih dinginkan hingga suhunya 37 derajat celcius.

Langkah selanjutnya adalah proses penggumpalan dengan cara menambahkan cuka atau dengan batu tahu (CaSO₄) yang terbuat dari batu gips atau sulfat kapur yang telah dibakar kemudian ditumbuk menjadi tepung. Anda bisa juga menggunakan jeruk nipis untuk menggumpalkan sari kedelai. 

Sebelum kembali ke Surabaya, turis saya minta berhenti ke pabrik penggilingan padi

Proses akhir dilakukan dengan cara menuangkan sari kedelai pada cetakan yang sudah dilapisi kain kemudian diberi pemberat untuk mengeluarkan sisa-sisa air. Padatan sari kedelai selanjutnya dipotong-potong sesuai ukuran yang diinginkan dan siap dipasarkan ke pasar.

Nah .. ternyata mudah ya membuat tahu, jika anda ingin membuat tahu sendiri dirumah atau berpikir untuk membuka usaha tahu semoga tulisan ini jadi inspirasinya.



Sumber :
http://www.bppjambi.info/newspopup.asp?id=700


Wednesday, November 15, 2017

Ritual Pagi dalam Segelas  Kopi

Menyambut pagi membuang sepi ... sebuah lirik lagu sendu milik Ebiet G Ade yang mengalun lembut dari channel youtube yang saya putar, sepertinya pas menemani ritual pagi dengan secangkir kopi.

Kali ini saya memilih duduk menikmati sejuknya udara pagi diatas teras balkon rumah ibu, dinginnya setara suhu AC 18 derajat diwarnai langit biru berawan putih tipis dan kicau burung gereja yang sejak pukul lima tadi riuh bercicit dengan kawanannya.

Beberapa serangga tak dikenal pun ikut terbang mengitari daun salam dan bunga kamboja yang mekar mewangi dalam pot yang mulai usang dimakan waktu. Sedangkan barisan semut hitam sibuk menunggu antrian menyeberangi tautan genteng karang pilang, buatan pabrik di Mojokerto yang masih terlihat kokoh menaungi rumah ini. 

Suasana pagi ini sedikit sendu meski mentari perlahan berusaha mengoyak mendung selepas hujan semalam. Warna-warni genteng dan hijaunya daun pohon sono yang segar dibalut embun seolah menjadi supporter yang membantu mentari menceriakan hari.

Di kejauhan nampak pegunungan Iyang sedikit samar oleh kabut, hanya sudut tegas gunung Ardi Saeng yang kelihatan hijau keemasan, bentuknya menyerupai bangunan piramid di Mesir. Kadang saya bertanya-tanya adakah misteri yang tersembunyi pada gunung itu, mengapa bentuknya begitu tegas tidak seperti gunung lain pada umumnya, mungkinkah ini piramida yang kedua di tanah Jawa setelah Gunung Padang?

Ah .. jawaban itu tidak pernah saya temukan, karena saya juga belum bertemu dengan orang yang tepat untuk menanyakannya. Saya coba palingkan pandangan ke sebelah timur rumah ibu, waktu saya kecil puncak gunung Ijen samar-samar terlihat berdampingan dengan puncak gunung Raung tapi sayangnya kini tertutup oleh bangunan rumah yang saling berebut menjulang tinggi seolah tidak ada aturan yang perlu ditaati.

Roof Top View from my Balcony

Pohon beringin tua di makam dekat sekolah saya juga sudah tidak nampak dari balkon ini, begitu juga dengan pemandangan gunung disebelah utara kota, meski saya tak paham betul nama-namanya karena sedikit data resmi yang bisa saya temukan dari website pemerintahan Bondowoso, tentang nama-nama gunung beserta rincian angka ketinggiannya. Cukuplah memandangnya dari kejauhan sudah membuat hati ini merasa tentram dan membuktikan bahwa gunung itu tinggi menjulang.

Lalu pandangan saya palingkan pada langit tepat diatas kepala saya, warnanya biru menyejukkan mata. Sejenak ingatan mengenang masa kecil ketika bercengkrama dengan kakek sepulang sekolah sembari rebahan di lantai terasnya, bercerita tentang bentuk-bentuk awan yang silih berganti menggoda imajinasi untuk kritis berkreasi.

Saya bersorak gembira ketika menemukan bentuk hewan-hewan maupun permen coklat  di langit, terkadang juga hanya menjumpai tumpukan awan menyerupai kapas kapuk yang bergelantungan di pohonnya. Saya sangat gembira menyaksikan layar lebar semesta dan juga terkagum-kagum pada Tuhan akan ciptaan-Nya.

Ketiga Pagi Menjelang

Apakah anak-anak jaman sekarang juga senang melihat awan? ataukah mereka sudah terlalu sibuk oleh ratusan pekerjaan rumah dan jadwal kursus yang dibebankan setiap harinya sepulang sekolah sehingga tak ada waktu sejenak menyegarkan pikiran untuk sekedar melihat awan agar bisa berpikir jernih ketika menghadapi perubahan jaman.

Hmm tak terasa musik telah berganti pada lagu band indie yang bertajuk Dialog Hujan, liriknya masih tetap tentang rindu ... 

Bicara Rindu .. Bicara Haru ... 
Bernyanyi Merdu ..Bernyanyi Sendu
Bebaskan Birunya hatimu ...

Alunan musiknya yang tenang menambah kesejukan ngopi pagi ini, membawa saya jauh menapaki ruang waktu dan kerinduan yang menggumpal pada masa-masa itu, ketika dunia masih sebatas cerita televisi tentang sabun cuci dan remah roti, dunia yang murni dan sunyi tanpa basa basi.

Rindu pada masa kejujuran menjadi yang utama, rindu pada ketulusan kala menjadi hal yang dipuja diam-diam, rindu pada kedamaian menikmati secangkir kopi tanpa beban bualan anggota dewan, rindu pada pemimpin yang diam-diam menemui rakyatnya dikeheningan malam, dan rindu pada negeri yang membiarkan bangsanya bersatu dalam perbedaan tanpa ada paksaan.

Apakah anda juga rindu masa-masa itu? Meski banyak orang "alumni" 98 mengatakan bahwa masa-masa itu adalah masanya si tangan besi, yang penuh dengan represi tapi herannya masyarakat semua bisa makan nasi, meski hidup seolah dalam kurungan besi.


Bandingkan dengan jaman sekarang, semuanya bebas berekspresi, bebas berdemontrasi, bahkan bebas untuk saling mengeksekusi tanpa perlu mediasi, tapi tidak semua rakyat bisa makan nasi, tidak semua orang bisa hidup bergengsi, semuanya penuh basa-basi, dan hanya rebutan kursi.

Sepertinya budaya tenggang rasa dan sikap legawa sudah hilang dari negeri ini. Semua mengatasnamakan kepentingan kelompok yang sebenarnya dibalut rapi dengan kepentingan pribadi. Sudah tidak ada lagi budaya gotong royong yang benar-benar murni, semuanya penuh tendensi, kalau hari ini aku datang dengan secangkir kopi, maka besok giliranmu membawa sepiring nasi.

Kamboja

Barisan semut sudah sampai pada ujung genteng sebelah utara, sedangkan serangga juga sudah bosan mengitari kuncup bunga kamboja, nampaknya burung gereja juga sudah lelah berlatih paduan suara, persis seperti rakyat Indonesia yang sudah sangat lelah menyaksikan cuplikan berita penuh perkara.

Ahh .. Akupun sudah lelah menunggu cahaya perubahan meski belum banyak yang aku lakukan, ada baiknya kusudahi saja ritual kopi pagi ini dan membiarkan alam bekerja menceriakan hari. Semoga masih ada harapan bagi anak-anak negeri, yang lama memendam rindu pada tepian tak berperi.

Salam untuk Negeri, dari balkon tingkat rumah ini
Selamat Hari Pahlawan !






Monday, November 13, 2017


Akhirnya saya putuskan meneruskan perjalanan pulang dengan jasa PT. KAI, menjajal rasanya naik kereta malam dari Sidoarjo menuju Kota Jember, setelah mendarat di Bandara Juanda Surabaya beberapa bulan lalu.

Ide ini saya ambil dari saran seorang teman yang jago backpacker-an, Icank namanya. Dia menganjurkan saya untuk naik kereta api saja menuju Kota Jember kemudian ke Bondowoso-nya naik taxi, karena penerbangan Jakarta - Jember tidak ada yang direct.

Jika saya menggunakan jasa bus antar-provinsi dari Bungurasih ke Bondowoso juga susah, sebab paling akhir bus menuju kota saya jam 6.30 malam, sedangkan pesawat baru tiba dari Jakarta jam 8 malam.

Lalu saya tanya, "memangnya ada kereta malam ke Jember?". 
"Ada kok ... harganya juga murah, coba kamu cek aja di Traveloka" jawabnya menjelaskan
"Lahh sejak kapan bisa beli tiket kereta di Traveloka?" tanya saya lagi keheranan, karena setau saya Traveloka hanya bisa pesan tiket pesawat dan hotel.
"Duuhh ibuu... kemana ajaa ha ha ha... sekarang Traveloka sudah jadi partner resmi KAI, jadi pesan tiketnya dijamin cepat, mudah, dan aman! selorohnya bahagia menertawakan ke-kudet-an saya.

Daftar Pesanan Tiket Saya via Traveloka

Hmm saya memang sering menggunakan jasa Traveloka setahun belakangan ini untuk urusan pesan hotel, alasannya karena mudah dan banyak pilihan hotel juga sistem pembayarannya yang sangat beragam, bisa transfer antar bank, pakai kartu kredit, hingga bayar di Indomart.

Sedangkan untuk urusan tiket kereta api, jujur ini yang pertama kali memesan tiket kereta. Ternyata melalui situs Traveloka kita bisa melihat jadwal kereta api baik yang kelas ekonomi sampai kelas eksekutif, sekaligus jam keberangkatan dan kedatangan-nya secara pasti. Kita juga bisa menentukan dari mana dan mau kemana stasiun kereta yang kita mau... mudah kan?!

Waah saya bangga dengan PT. Kereta Api Indonesia yang semakin meningkatkan pelayanannya, mulai dari fasilitas gerbong kereta yang semuanya ber-AC, sudah tidak ada lagi penjual asongan/pengamen yang sliweran dalam gerbong, trus yang pasti AMAN nggak ada copet!

Selain itu penumpang semakin dimudahkan untuk mendapatkan tiket kereta api, salah satunya disediakan oleh Traveloka melalui reservasi tiket on-line. Perusahaan e-commerce wisata ini telah berdiri di Indonesia sejak Oktober 2012 lalu yang mengawali penjualan tiket pesawat dan hotel kala itu.

Kini Traveloka, yang digawangi oleh Ferry Unardi dan kawan-kawannya, telah berhasil menjadi salah satu situs terbaik urusan tiketing di Indonesia dan Asia Tenggara, mungkin nanti juga tingkat dunia ya .. aamiin, bahkan sekarang ada jasa beli pulsa dan tiket wisata lainnya loh!

Cara Pesan Tiket Kereta via Traveloka

Jika anda sudah punya app Traveloka di gadget akan lebih mudah dan bisa dapat tambahan poin, tapi karena HP saya tergolong belum pinter-pinter amat he he he, jadi saya pilih pesan tiketnya via laptop saja.

Klik langsung bagian logo kereta api pada situs traveloka[dot]com, kemudian pilih tanggal keberangkatan, sekali jalan atau pulang pergi, stasiun keberangkatan dan kedatangan, serta jumlah penumpang kemudian tekan tombol cari tiket.

Nota Pembelian Tiket Kereta via Traveloka

Tarif kereta yang ditawarkan traveloka juga nggak kalah menarik, apalagi ada tambahan bonus tak terduga. Pilih kereta yang sesuai dengan jadwal perjalanan anda, kemudian isikan informasi penumpang dan ikuti langkah-langkahnya hingga berakhir pada proses pembayaran.

Yang paling saya suka dari situs ini, ada pilihan bank CIMB Niaga sesuai dengan rekening yang saya punya, jadi nggak pake tambahan biaya transfer, hemat dan cepat pula. Tidak sampai lima menit setelah kita melakukan pembayaran, akan dikirim e-mail konfirmasi pemesanan yang berisi e-ticket dan nota penjualan.

Hal ini penting bagi saya, karena saya butuh nota penjualan untuk keperluan pembukuan usaha. Kita bisa cetak e-ticket  tidak cetak pun nggak masalah, tapi untuk jaga-jaga saya selalu cetak e-ticketnya.

e-tiket Traveloka

Saya pesan tiket kereta untuk keberangkatan dari Stasiun Sidoarjo Kota menuju Jember satu bulan sebelumnya, dengan menggunakan kereta malam Mutiara Timur Malam, yang berangkat pukul 22:26 WIB dan diperkirakan tiba pukul 01:42 WIB di Stasiun Jember Kota, untuk keberangkatan tanggal 17 Mei 2017 lalu.

Ahh lega rasanya ketika proses pemesanan sudah selesai. Saya #JadiBisa pulang kampung dengan tenang dan aman berkat Traveloka. Eitss tunggu dulu bagaimana fakta di lapangan setelah pesan tiket kereta via situs ini.

Fakta Di Lapangan dengan E-ticket Traveloka

Pas hari-H, pesawat saya tiba tepat waktu di Bandara Juanda Terminal 2, lalu saya naik taxi menuju Stasiun Kota Sidoarjo yang jaraknya kurang lebih hanya ditempuh sekitar 15 menitan kalau nggak macet.

Pintu Masuk Stasiun Sidoarjo

Sempat khawatir juga ketinggalan kereta, karena saya belum cetak tiket aslinya, saya pikir harus cetak tiket di loket dan mengantri lama seperti waktu dulu di stasiun Gubeng Surabaya, saya hampir ketinggalan kereta karena antriannya panjang dan lama.

Untungnya jalanan Surabaya sudah cukup lengang, saya tiba di Stasiun Sidoarjo pukul sembilan lewat sepuluh malam. Bayangan saya keliru! Stasiun sangat sepi dan lengang, hanya abang-abang becak yang duduk diluar palang pintu masuk dan warung-warung penjual makanan ringan yang masih buka.

Loket stasiun sudah tutup, tak juga nampak penjaga maupun petugas Stasiun Kereta, hanya ada 3 orang penumpang yang duduk-duduk menunggu jemputan pulang. Waduuuhhh ...bahaya nih! gumam saya, karena e-tiket masih belum dicetak, dan stasiun sudah tutup, bisa-bisa saya batal pulang kampung dengan kereta.
Perangkat Cetak Tiket Mandiri PT.KAI

Saya berusaha meredakan kepanikan dengan bertanya pada penumpang yang duduk di bangku penjemputan. Ibu dan bapak paruh baya itu menunjukkan dimana saya harus menunggu kereta, mereka juga tidak tahu dimana mencetak tiketnya.

Hmm ... panik sudah mulai naik dari level siaga menuju waspada. Saya berjalan agak cepat berharap bertemu dengan petugas stasiun yang mau menolong untuk mencetak e-tiket saya. Rasa haus dan lapar karena belum makan malam tak saya hiraukan, saya hanya ingin segera pulang titik!

Penumpang yang seedang cetak tiket

Ahh akhirnya level waspada turun menjadi ceria! Sungguh sangat katrok, sekarang cetak e-tiket sudah tidak perlu ke loket, ternyata pihak PT. KAI sudah menyediakan perangkat elektronik canggih yang membantu penumpang untuk cetak tiket sendiri, istilahnya kalau di dunia penerbangan adalah self check-in.

Wooooww Traveloka dan Kereta Api Indonesia benar-benar JUARA! Pelayanannya sangat mudah dan memanjakan pelanggannya. Kita tidak perlu susah-susah ngantri, pembayaran-pun gampang, semuanya seperti tinggal menjentikkan jari saja .. dan taraaa tiket sudah tercetak.

Awalnya saya juga takut salah pas mau sentuh layar touchscreen, ehh enggak ding ada keyboard nya juga hi hi hi. Kita tinggal memasukkan kode booking atau nama penumpang kedalam aplikasi cetak tiket PT.KAI, bisa juga dengan scan barcode yang tertera pada e-tiket, lalu akan muncul data penumpang lengkap dengan tujuan  kereta pada tiketnya, tinggal tekan "print" dan urusan pun beress!

Gambar Isi Layar Komputer

Tiket saya keluar dari mesin printer kecil disebelah layar komputer, hmm saya tersenyum mengenang kepanikan dan kebodohan saya tadi. Memang benar ketika melakukan perjalanan itu ilmu menangani "kepanikan" sangatlah penting, agar perjalanan anda menyenangkan meskipun kenyataannya pahit ..sepahit cerita cintamu ha ha ha..

Well .. okay tiket sudah ditangan, tapi karena jam keberangkatan belum tiba pintu stasiun belum dibuka. Saya menunggu kurang lebih 1 jam sampai akhirnya beberapa satpam ganteng membuka pintu dan mempersilahkan penumpang masuk satu persatu setelah dicek data dan tiketnya.

Tiket yang sudah tercetak

Ahayyy .. kereta malam akhirnya tiba, cepat-cepat saya berlari menuju gerbong dan kursi yang nomornya tertera pada tiket, masih berharap bisa duduk berdampingan dengan pemuda tampan bin mapan biar perjalanan semakin nyaman.

Ohh kenyataan selalu lebih pahit dari impian .. saya duduk dengan pemuda berbadan tambun yang ukuran pahanya dua kali lipat paha saya, malangnya lagi dia menuju Jember, artinya selama perjalanan sudah nggak ada harapan lagi bertemu penumpang pengganti hu hu hu..


But anyway .. terima kasih kepada Traveloka, kemudahan dan kenyamanan pelayanannya sangat layak diacungi jempol. Tak lupa PT. Kereta Api Indonesia yang semakin memantabkan pelayanan bagi penumpangnya. Akhirnya saya #JadiBisa tiba di Kota tujuan dengan selamat.

Pesan saya untuk dua persuahaan ini .. baik-baiklah ya kalian berdua, sudah menjadi pasangan yang pas .. jangan sampai lepas ..eh! saya pasti akan menjadi pelanggan setia!

Kursi Empuk yang enak buat tiduran he he he



Saturday, November 11, 2017


Apakah anda termasuk orang yang percaya akan ramalan? atau justru tidak percaya dan menganggap bahwa mempercayai ramalan adalah perbuatan syirik menurut agama?

Jika anda termasuk dalam kategori pertama, tulisan ini akan memberi informasi tentang ramalan dari kitab Jawa kuno karya KGPAA Mangkunegara IV yang berjudul Serat Wedhatama.

Namun bagi anda yang tidak mempercayai ramalan, ada baiknya juga anda melanjutkan dulu membaca sampai beberapa paragraf, supaya ada pemahaman dari sudut yang berbeda tentang ramalan dan Kitab Jawa Kuno.

Apa yang saya tulis disini, adalah hasil saduran dari buku yang sedang saya baca, judulnya Intisari Kitab-kitab Adiluhung Jawa Terlengkap, karya Soedjipto Abimanyu, terbitan Laksana-Jogjakarta, cetakan pertama tahun 2014.



Buku ini saya beli ketika berkunjung ke Bursa Buku Bondowoso bulan September lalu. Harga yang awalnya dibandrol Rp. 120,000 setelah diskon menjadi Rp. 60,000 saja, waahh senangnya!

Dalam buku ini dituliskan beberapa intisari kitab-kitab Jawa Kuno, karya para pujangga termasyhur dijamannya. Ada lima belas kitab yang diceritakan pada buku ini yaitu : Jangka Jayabaya, Serat Kalatidha, Serat Wedharaga, Serat Candrarini, Serat Nitisruti, Serat Darmawasita, Serat Pepali, Serat Wulangreh, Serat Sastra Gendhing, Serat Centhini, Suluk Syekh Malaya, Suluk Sujinah, Serat Sabdatama, Serat Wedhatama dan Serat Cipta Waskitha.

Membaca buku ini membuat saya malu sekaligus terkagum-kagum akan karya pujangga Nusantara. Bagaimana tidak malu? jika saya sebagai orang Jawa tapi tidak mengenal kitab-kitab ini, yang jelas-jelas mengandung ilmu amat sangat berharga didalamnya.

Bahkan beberapa Kitab sudah diterjemahkan kedalam bahasa asing dan digemari pula oleh bangsa asing, karena kemasyhuran ilmu yang dikandung kitab tersebut. Sedangkan kita anak cucunya tidak mau mempelajari serta mengamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari.



Dulu sebelum saya mau "membuka hati dan pikiran" lebih banyak akan ilmu-ilmu yang baru saya kenal, dan masih tergabung pada "kelompok pengajian aliran saklek", saya termasuk orang yang memantangkan diri terhadap hal-hal yang saya anggap klenik dan menurut mereka cenderung berbau bid'ah.

Sayapun ikut-ikutan menuduh orang lain yang saya anggap berbeda dengan aliran saya sebagai orang yang melakukan "bid'ah" serta tidak memurnikan ajaran Islam. Padahal ilmu saya masih sangaaaat cethek malah boleh dibilang masih "asat"  - sebutan untuk sungai yang kering tanpa air.red - kata orang Jawa.

Tapi saya sudah berani mengeluarkan "dalil" dan beranggapan saya sedang "berdakwah". Woww sombong sekali ya saya .. ?! Mengenang masa-masa itu membuat saya malu dan menyesal karena pernah bersikap jumawa, saya malu karena orang-orang yang dulu saya anggap tidak tahu apa-apa, justru menyimpan banyak ilmu namun mereka sengaja tidak mau menampakkannya... Duhh Gusti .. nyuwun pangapunten sedoyo kalepatan kulo . (Oh Tuhan Ampunilah seluruh kesalahan hamba).

Apakah Kitab Jawa hanya berisi Ramalan?

Buku yang saya baca ini hanya ringkasan saja, karena memang tidak mudah untuk mendapatkan kitab asli, dan tentunya bahasa juga tulisan yang digunakan masih menggunakan bahasa jawa kuno, tapi kita masih bisa melihat kitab-kitab tersebut tersimpan di beberapa museum Indonesia.

Betapa senang hati saya karena buku ini menggunakan bahasa Indonesia, juga masih menulis bahasa jawa aslinya pada bagian tembang-tembangnya.

Kitab-kitab Jawa karya para pujangga ini bukanlah kitab ecek-ecek yang ditulis dalam waktu singkat, tanpa laku tirakat, kemudian ketika sudah "terbit" hanya beredar sebentar lalu dilupakan pembacanya.

Dari penjelasan penulis buku ini, Kitab Jawa adalah karya monumental setiap pujangga yang menulisnya. Mereka benar-benar menulis dengan hati, karya-karya mereka terbilang everlasting alias abadi, ajaibnya lagi kitab-kitab tersebut masih tetap relevan ketika diperbincangkan pada masa kini.



Jangan dikira kitab-kitab Jawa itu seperti buku-buku ramalan yang dijual eceran di emperan kaki lima! Kitab yang sedang saya bicarakan ini adalah karya agung pujangga ternama yang hampir semuanya merujuk pada ajaran Islam, tapi sayangnya banyak generasi muda yang tidak mengetahui hal ini.

Keambiguan sejarah benar-benar sukses menutupi kejayaan nenek moyang kita, menjadikan generasi muda malu untuk mengenal budayanya, malu berbicara tentang asal usul leluhurnya, bahkan menganggap ajaran-ajaran Jawa adalah ajaran yang usang dan kuno.

Andai saja kita mengenal dengan baik asal usul dan siapa leluhur kita, mungkin anda tidak perlu jauh-jauh menempuh ilmu ke Amerika, justru mereka yang seharusnya belajar kepada bangsa Indonesia!

Kitab-kitab Jawa tidak hanya berisi tentang ramalan, tapi juga ilmu-ilmu tentang Keesaan Tuhan, budi pekerti, moral, tata susila, bahkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat ramah lingkungan. 



Leluhur kita punya banyak ilmu tentang pendidikan anak, menjadi orang tua, berumah tangga plus hidup bertetangga, bahkan salah satu kitab jawa yang berjudul Serat Chentiniyang merupakan karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru- menuliskan tentang ilmu tata cara bersenggama pada salah satu bab-nya.

Kitab ini adalah karya dari tiga pujangga besar pada jamannya, yaitu Kyai Yasadipura I, Kyai Ranggasutrasno, dan Raden Ngabehi Sastradipura atau disebut juga Kyai Haji Ahmad Ilhar yang diperintah oleh putra mahkota Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangku Nagara III (Sunan Pakubuwana V), lama penulisannya dimulai dari tahun 1820-1823.

Rata-rata penulis kitab jawa adalah seorang yang alim, pandai, dan banyak mendekatkan diri pada Allah S.W.T dengan cara banyak mengurangi makan dan tidur, istilahnya bersemedi atau tapa brata. Nah jangan terburu-buru menganggap syirik ya .. bukankah ini juga dilakukan Nabi Besar Muhammad s.a.w ketika menyendiri di Goa Hira?

Karena itulah karya-karya pujangga Jawa ini benar-benar abadi, sebab untuk menghasilkan tulisannya tidak main-main, mereka banyak melakukan perenungan, penelitian mendalam, belajar pada guru yang tepat, dan membaca baik kitab karya-karya pujangga Tanah Arab hingga membaca alam.

Kalau boleh dibilang, jaman dulu Jawa adalah pusatnya filosofis handal yang menguasai berbagai bidang ilmu dan kesusastraan melebihi filosof-filosof asal Negeri Barat seperti Plato, Aristoteles, Socrates dan sebagainya.

Mengenai ramalan, Al Quran dan Al Hadits juga ada yang berisi tentang ramalan kan? Ramalan yang dimaksud disini bukanlah meramal nasib, tapi lebih ke future teller, misalnya ayat tentang akan banyaknya orang yang berbondong-bondong masuk Islam, atau hadits tentang orang yang berpakaian tapi telanjang, bukankah itu semua "ramalan" atau boleh dibilang "prediksi" dalam bahasa kekiniannya?

Nah kemampuan meramal atau melihat masa depan itu memang anugerah dari Tuhan kepada para Nabi dan wali serta orang pilihan Allah, karena mereka termasuk dalam Kekasih Allah.



Anda boleh saja tidak mempercayai hal ini sekarang, tapi saya yakin suatu saat nanti jika Allah berkehendak akan memberikan jalan bagi anda untuk mengetahui ilmu-ilmu yang belum anda ketahui, karena sesungguhnya yang kita ketahui ini saat ini baru setetes dari luasnya lautan ilmu Allah, .. InsyaAllah!

Maka dari itu marilah kita sama-sama terus belajar dan jangan berbangga dulu akan ilmu yang sedang atau sudah kita pelajari. Merujuk kembali pada kalimat orang bijak, ketika berilmu jadilah seperti tanaman kacang, yang semakin berisi semakin menyembunyikan akar dan bijinya kedalam bumi.


Ramalan Serat Wedhatama

Bagian ini adalah saduran dari buku yang saya maksud diatas. Setiap Kitab Jawa biasanya dituliskan dalam bentuk tembang/lagu dengan beberapa bagian, ada yang disebut Pangkur, Sinom, Pucung, Gambuh, Kinanthi, Dhandanggulo dan sebagainya.

Serat Wedhatama itu sendiri berasal dari 3 suku kata, Serat yang berarti tulisan atau karya yang berbentuk tulisan, Wedha yang berarti pengetahuan atau ajaran, dan Tama berasal dari kata utama yang berarti baik, tinggi, atau luhur, (Abimanyu, Soedjipto. 2014)

Bait-bait yang ternyata isinya sekarang sedang terjadi di Indonesia, diambil dari tembang Pucung yang berisi 16 bait, tapi dibuku ini hanya ditulis 15 bait. Berikut saya sadurkan isinya sebagai berikut, adapun yang termasuk ramalan, tulisannya saya bold :

Bait 1:

 "Ngelmu iku, kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangkese dur angkara."

Ilmu (hakikat) itu diraih dengan cara menghayati dalam setiap perbuatan, dimulai dengan kemauan. Artinya kemauan membangun kesejahteraan, teguh membudidaya menaklukkan semua angkara.

Bait 2:

"Angkara gung, neng angga anggung gumulung, gogolonganira triloka, lekere kongsi, yen den umbar ambabar dadi rubeda."

Nafsu angkara yang besar ada didalam diri, kuat menggumpal, menjangkau hingga tiga zaman, jika dibiarkan berkembang akan berubah menjadi gangguan.

Bait 3:

"Beda lamun, kang wus sengsem reh ngasamun, semune ngaksama, sasamane bangsa sisip, sarwa sareh saking mardi martto tama."

Berbeda dengan yang sudah menyukai dan menjiwai, watak dan perilaku memaafkan pada sesama selalu sabar berusaha menyejukkan suasana.

Bait 4:

"Taman limut, durgameng tyas kang weh limput, kereming karamat, karana karohaning sih, sihing sukma ngreda sahardi gengira."

Dalam kegelapan, angkara dalam hati yang menghalangi, larut dalam kesakralan hidup, karena tenggelam dalam samudra kasih sayang, kasih sayang sukma (sejati) tumbuh berkembang sebesar gunung.

Bait 5:

"Yekut patut, tinulad-tulad tinurut, sapituduhira, aja kaya jaman mangkin, keh pramudha mundhi dhiri lapel makna."

Itulah yang pantas ditiru, contoh yang patut diikuti seperti semua nasihatku. Jangan seperti zaman nanti, banyak anak muda yang menyombongkan diri dengan hafalan ayat.

Bait 6:

"Durung pecus, kesusu kaselak besus, amaknani lapal, kaya sayid weton Mesir, pendhak-pendhak angendhak gunaning janma."

Belum  mumpuni sudah berlagak pintar. Menerangkan ayat seperti sayid dari Mesir, setiap saat meremehkan kemampuan orang lain.

Bait 7:

"Kang kadyeku, kalebu wong ngaku-aku, akale alangka, elok jawane denmohi, paksa ngangkah langkah met kawruh ing Mekah."

Yang seperti itu termasuk orang mengaku-aku, kemampuan akalnya dangkal, keindahan ilmu Jawa malah ditolak. Sebaliknya memaksa diri mengejar ilmu di Makkah.

Bait 8:

"Nora weruh, rosing rasa kang rinuruh, lumekting angga, anggere padha marsudi, kana-kene kaanane nora beda."

Tidak memahami hakikat ilmu yang dicari, sebenarnya ada di dalam diri. Asal mau berusaha sana sini [ilmunya] tidak berbeda.

Bait 9: 

"Uger lugu, den ta mrih pralebdeng kalbu, yen ersu ersua, ing drajat kajating urip, kaya kang wus winahyeng sekar srinata."

Asal tidak banyak tingkah, agar supaya merasuk ke dalam sanubari. Bila berhasil, terbuka derajat kemuliaan hidup yang sebenarnya, seperti yang telah tersirat dalam tembang sinom.

Bait 10:

"Basa ngelmu, mupakate lan panemu, pasahe lan tapa, yen satriya tanah Jawi, kuna-kuna kang ginilut triprakara."

Yang namanya ilmu, dapat berjalan bila sesuai dengan cara pandang kita. Dapat dicapai dengan usaha yang gigih. Bagi satria tanah Jawa, dahulu yang menjadi pegangan adalah tiga perkara.

Bait 11:

"Lila lamun, kelangan nora gegetun, trima yen ketaman, sakserik sameng dumadi, trilegawa nalangsa srahing Batara."

Ikhlas bila kehilangan tanpa menyesal, sabar jika hati disakiti, ketiga lapang dada sambil berserah diri kepada Tuhan.

Bait 12:

"Batara gung, inguger graning jajantung, jenak Hayang Wisesa, sana paseneten suci, nora kaya sing mudha mudhar angkara."

Tuhan Maha Agung diletakkan dalam setiap hela napas, menyatu dengan Yang Maha Kuasa, teguh menyucikan diri, tidak seperti yang muda, mengumbar nafsu angkara.

Bait 13:

"Nora uwus, kareme anguwus-uwus, uwose tan ana, mung janjine muring-muring, kaya buta buteng betah nganiaya."

Tidak henti-hentinya gemar mencaci maki. Tanpa ada isinya kerjaannya marah-marah seperti raksasa; bodoh, mudah marah dan menganiaya.

Bait 14:

"Sakeh luput, ing angga tansah linimput, linimpet ing sabda, narka tan ana udani, lumuh ala ardane ginawe gada."

Semua kesalahan dalam diri selalu ditutupi, ditutup dengan kata-kata mengira tak ada yang mengetahui, bilangnya enggan berbuat jahat padahal tabiat buruknya membawa kehancuran.

Bait 15:

"Durung punjul, ing kawruh kaselak jujul, kaseselan hawa, cupet kapepetan pamrih, tangeh nedya anggambuh mring Hyang Wisesa."

Belum cakap ilmu buru-buru ingin dianggap pandai. Tercemar nafsu selalu merasa kurang, dan tertutup oleh pamrih, sulit untuk manunggal pada Yang Maha Kuasa.

Nah itulah isi dari tembang Pucung dari Kitab Wedhatama, mari sama-sama kita renungkan dari beberapa bait yang saya tebalkan, merenung dengan hati dan kepala yang dingin serta meninggalkan paham "fanatisme" akan segala sesuatu yang kita pahami.

Mari kita sama-sama bertanya pada hati nurani, apakah yang sedang terjadi di Indonesia? apakah benar mereka membawa Islam yang Rahmatan Lil 'Alamin? ataukah seperti yang dikatakan dalam kitab wedhatama, bahwa mereka "terlalu bernafsu" untuk unjuk ilmu yang masih belum seberapa?

Jawabannya saya kembalikan pada anda para pembaca 😉😊 terima kasih sudah sudi membaca dari awal hingga akhir, semoga kita menjadi pribadi yang terus belajar dan disayang Tuhan. Selamat berakhir pekan!