Sejatine Urip Iku Mung Ngampung Dolan

Wednesday, November 12, 2008

Surabaya Vs Pahlawan City






Aroma darah yang mengguyur petak-petak kota tua SOERABAYA mungkin sudah tak terendus lagi oleh hidung mungil ini, namun saksi-saksi bisu sejarah semangat perjuangan Bangsa ini masih menggores dan tetap menganga diantara deru bising kesibukan kota Surabaya..


10 NOVEMBER ...


2 hari yang lalu, Surabaya lebih pikuk dibanding hari-hari biasa, maklum gema peringatan 10 November - sebagai hari pahlawan sudah berteriak-teriak lantang bak pekikan "Bung Tomo" kala perebutan kekuasaan melawan tentara Belanda di Hotel Orange (Skr.. Hotel Majapahit)sejak akhir Oktober lalu. Kalau saja banyak muda-mudi yang merayakan Hari Haloween (Suatu Kebodohan yang Memperingatinya)entah apa karena butanya pelajaran sejarah yang mereka terima, atau lunturnya kepribadian... Ahh sudahlah.. tak perlu saling berteriak menyalahkan.. mengapa tidak mencoba untuk berteriak seperti Bung Tomo mengajak seluruh lapisan berjuang menuju perbaikan yang lebih berarti..

Oh.. Surabaya.. kota metropolis setelah Jakarta, yang masih terengah-engah menata lekuk-lekuk tubuhnya, bak seorang gadis belia yang mulai mengenal hasrat.. segala kebijakan diterapkan, segala percontohan landscape kota dijejalkan... semaraknya warna-warni budaya dan berbagai macam kepentingan di peluk, agar nampak Bahenol, cantik dan menarik..
Tapi...
Apa yang telah dihasilkan dari semua permak dan permik di Tubuh Kota Surabaya.. adakah hasil yang nyata bagi kesejahteraan "Arek-arek Suroboyo" itu sendiri atau "Arek Njobo" yang numpang bertarung melawan buaya ?!!

Pertumbuhan ekonomi, infrastruktur, lapangan pekerjaan dan berjalannya kebijakan-kebijakan yang menunjang pertumbuhan itu sendiri adalah suatu tolak ukur bagi "Senyum nya Arek-arek Suroboyo" tetapi bukan hanya karena terjadinya peristiwa heroic Bung Tomo, atau pesatnya pertumbuhan Kota, serta berbaurnya segala kebudayaan bangsa itu saja yang menjadikan Surabaya mendapat gelar Kota Pahlawan.. tapi ada satu hal yang sangat penting (di lihat dari kacamata Arek Njobo- Orang Rantau-)yang kadang sering dilupakan orang, atau bahkan tidak pernah disadari oleh siapapun

RASA TEPO SELIRO & SEDULUR (Tenggang Rasa & Persaudaraan) yang tinggi..
Yap.. itu yang selama ini saya rasakan selama kurang lebih 2 tahun berada di Surabaya, Hal ini yang mungkin tidak dimiliki oleh kota-kota lain di Indonesia, atau mungkin dimiliki tetapi prosentasenya lebih kecil. Banyak orang bilang Surabaya kota yang keras dengan penduduk yang berkarakter keras.. Yap.. sepakat untuk itu, tetapi dibalik itu semua sesungguhnya tersimpan karakter yang indah.. Jadi Coba dan datanglah ke SURABAYA !!

Pada dasarnya.. Surabaya tidak kalah dengan kota-kota besar lainnya, meski terkenal dengan kondisi udara yang sangat panas membakar kepala,polusi udara, dan komunitas kumuh tetapi saat ini Surabaya lebih anggun dengan taman-taman bunga di berbagai sudut kota, penataan PKL (meski masih ada ricuh dan konflik) yang mulai manis, kemacetan yang hanya terjadi pada jalur-jalur tertentu.. Itulah Surabaya sekarang. Banyak tempat-tempat yang mampu menarik wisatawan baik lokal maupun asing. Pusat-pusat perbelanjaan produk-produk lokal maupun pasar-pasar traditional dan pusat perkulakan merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan bisnis bahkan juga bagi wisatawan asing.

Namun sayangnya.. masih kurangnya perhatian pemerintahan Surabaya terhadap perawatan gedung-gedung tua, dan spot-spot wisata lain membuat Surabaya semakin tak ter endus. Sedih rasanya melihat Surabaya hanya sebagai tempat transit wisatawan yang akan berlibur ke Bali atau ke Jogya dan Jakarta tanpa memberi kesan "welcome back"...
Semoga peringatan 10 November memberikan semangat bagi kita semua khususnya "pencetak kebijakan" untuk lebih memekik lagi dalam "NGRAMUT SUROBOYO"


OJO LALI REK... DOLAN NANG SUROBOYO !!!


2 comments:

  1. @lyla.. : thanks lyla.. tapi bukan jepretan sendiri tuh.. cuma browsing aja hehehe

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, sampaikan salam anda disini ya :)