Sejatine Urip Iku Mung Ngampung Dolan

Friday, August 5, 2011

Menampilkan Keindahan Islam Melalui Kaligrafi

(Atho’illah The Indonesian Master of Calligraphy)


Kekuatan seni kaligrafi Islam tidak hanya terletak pada kata-katanya yang bernafas, tapi juga pesona keindahannya yang mampu membuat hurufnya seolah menari-nari.


Terkait dengan proyek M.A.D yang saya tulis pada artikel sebelumnya, yaitu memotret sisi humanisme muslim di Negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Maka perjalan pertama proyek M.A.D di Jawa Timur, diawali dengan mengunjungi beberapa tokoh di Kota Santri Jombang.

Berbekal info dan nomor kontak dari seorang teman baik, bernama Alid Abdul, kami bertemu dengan seorang tokoh hebat.



Dialah salah satu Master Islamic Calligraphy yang telah berhasil mengantar seorang muridnya menjuarai kejuaraan seni kaligrafi tingkat internasional. Tokoh itu adalah Atho’illah, seorang Ustad yang sangat bersahaja.

Pengajar di Pesantren Denanyar Jombang yang biasa disapa Ustad Atho’illah adalah salah satu pendiri dan penggagas SAKAL (Sekolah Kaligrafi) di Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Ditemui di rumahnya kawasan Denanyar, beliau bercerita banyak mengenai kaligrafi dan seluk beluknya. Pertemuan kami ketika itu, seolah membawa kami ke atmosfir Islam yang berbeda dari yang saya kenal. Bahkan kedua teman saya, Eugenija dan Kamal sangat terkesan dengan diskusi yang sempat terjeda tiga jam karena kami harus menemui Gus Solah di Pesantren Tebuireng Jombang.

Dalam diskusi mengenai seni dalam Islam, Athoi’illah yang juga murid dari beberapa guru ahli kaligrafi dunia ini, memaparkan bahwa dengan belajar kaligrafi Islam, kita tidak hanya belajar tentang seni itu sendiri, tapi belajar tentang geometri, matematika atau al-jabar, kesabaran, keuletan, ketelitian, keindahan, ilmu sufi, dan banyak hal lagi.

“Allah itu indah dan mencintai keindahan. Jadi dengan mendalami seni kaligrafi, menjadi salah satu bentuk ekspresi saya untuk semakin mensyukuri nikmat dan mendekatkan diri kepada Allah,” ujar bapak satu anak ini.

Kaligrafi bukan saja seni menggoreskan pena pada kertas. Lebih dari itu ternyata dalam kaligrafi ada hitungan matematika, presisi sudut, dan kedisiplinan. Pada kaligrafi dikenal beberapa jenis huruf atau yang biasa disebut dengan Khot, untuk memudahkan membayangkan, seperti Font dalam komputer. Setiap jenis Khot, memiliki hitungan titik, dan presisi sudut yang berbeda. Adapun jenis-jenis Khot yang ada antara lain : Kufi, Tsuluts, Naskhi, Riq’ah, Ijazah (Raihani), Diwani, Diwani Jali, Farisi dan Moalla.

Alat yang digunakan untuk menulis, disebut dengan Reed Pen. ”Entah mengapa disebut dengan Reed, mungkin karena ketika menulis mengeluarkan bunyi reed,” kelakar Atho’illah. Reed Pen, atau dalam Bahasa Indonesianya disebut dengan handam (alang-alang), qolam qosbi / qolam jawi (ijuk besar) ternyata berasal dari tumbuh-tumbuhan yang juga ada di Indonesia, yaitu batang ijuk pohon Aren.

Batang aren dikeringkan terlebih dahulu, hingga menyerupai bambu kecil, kemudian bagian ujungnya diasah seperti bambu runcing. Sudutnya dibuat sedemikian rupa tergantung pada fungsi pemakaiannya.

Jika selama ini kita mengenal kaligrafi hanya memuat lafadz Allah, dan isi Al Quran, ternyata dalam kaligrafi Islami, lazim juga digunakan untuk menulis motto dan kata bijak. Bahkan nama kita sendiri bisa dijadikan tulisan yang indah dalam Kaligrafi.

Jadi Kaligrafi tidak melulu sesuatu yang kaku, sakral, atau suci yang harus ditempatkan dalam Masjid, atau dimuliakan seperti Al Quran, tetapi lebih pada sebuah karya seni dan keindahan. Diharapkan, dengan mencintai seni dan keindahan, akan lebih mendekatkan kita kepada Pencipta Seni itu sendiri.

“Allah itu menurut saya adalah The Great Artis. Coba kita bayangkan berapa banyak warna, bentuk, keberagaman, dan keindahan yang ada di Bumi ini, bahkan di Galaksi kita, berpendarnya bintang-bintang, itu semua adalah karya seni, jadi kenapa kita meski takut untuk berseni? Kita tidak menciptakan sesuatu yang baru, tetapi mencontoh dari Ciptaan Allah, agar kita semakin dekat dan mengenal Allah. Selama kita tidak melakukan hal-hal yang menentang Allah, saya rasa sah-sah saja,” tutur Atho’illah ketika ditanya korelasi antara Islam dan Seni. Sebagian orang sering berpendapat miring terhadap pecinta seni, karena menurut mereka bertentangan dengan ajaran Islam.

Syi’ar Islam atau mengenalkan Islam kepada setiap orang, tidak melulu harus berawal dari aturan-aturan Islam. Tidak harus melalui pengenalan hukum-hukum Islam seperti potong tangan bagi pencuri, hukuman gantung, cambuk, atau rajam. Tidak juga harus melalui pengenalan terhadap kewajiban-kewajiban dalam Islam.
“Perkenalkanlah Islam pada orang lain sesuai dengan apa yang mereka cari terlebih dahulu. Setelah mereka mulai jatuh cinta, secara otomatis mereka mau menerima Islam secara utuh,” urai Alumni Universitas Malang ini.

Islam tidak pernah memaksa setiap orang untuk masuk ke dalamnya, karena Islam bukanlah Agama paksaan

8 comments:

  1. weheeee aye sendiri gak nyangka klo di Jombang ada master kaligrafi... syukurlah kalo perjalanan kalian ke jombang jadi berarti :D

    ReplyDelete
  2. waw.... Congrat buat SAKAl jombang semoga semakin sssiiip... 4 jempol dah.....

    ReplyDelete
  3. waw... Congrat buat sakal jombang.... semoga semakin sukszzz... amiin

    ReplyDelete
  4. Terima kasih atas apresiasi dan komentar dari teman2 semua, semoga bisa saling bermanfaat :)

    ReplyDelete
  5. Sakal jombang, semoga ente-ente smua bisa menembus kaligrafi d timur tengah.. Siip btw direktor jombang. .
    Hehehe

    ReplyDelete
  6. love u my beloved school...sakal jombang :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, sampaikan salam anda disini ya :)