Sejatine Urip Iku Mung Ngampung Dolan

Wednesday, June 13, 2012

Ijen Festival (part 1)



Jika pahlwanmu melakukan sesuatu untuk negerimu, lalu kenapa tidak kau lakukan sesuatu untuk dunia

Ide untuk membuat sebuah event international, Ijen Festival, berawal dari rasa sedih saya, yang selalu membaca komentar negatif, semangat pesimis dan sumpah serapah dari beberapa member grup “Bondowoso” di jejaring sosial Facebook

Grup yang dibuat oleh Mas Eddy Liant, seorang pria kelahiran Bondowoso, yang menetap di Bali, sebenarnya ditujukan sebagai ajang temu kangen dan bertukar kabar tentang kota asal kita, terutama untuk para perantau, dan seiring dengan berkembangnya gaya hidup masyarakat, semakin banyak orang mengenal facebook, maka semakin banyak yang bergabung, tidak hanya yang dirantau, tapi juga orang-orang di Bondowoso sendiri.





Kala itu, seringkali sumpah serapah terhadap pemerintah, dan pesimis sebagai warga kota kecil yang jauh dari perhatian pemerintah pusat muncul di wall grup. Saya sedih, karena tidak sependapat bahwa orang-orang Kota saja yang bisa maju, orang-orang Kota saja yang bisa kreatif. dari sinilah saya ingin membuktikan bahwa meski kita tinggal / berasal dari kota yang mungkin tidak tercantum dalam peta, kita bisa memberikan sesuatu pada dunia.

Saya berpikir bagaimana dan apa yang bisa saya lakukan untuk Bondowoso, sedangkan saya sendiri tinggal dan bekerja di Surabaya, untuk menjadi anggota dewan, atau bupati, sepertinya jauh dari karir saya hehehe.. nah ide membuat sebuah festival, adalah salah satu cara untuk menjadikan Bondowoso dikenal. Contoh saja seperti Kota Jember, dimana saya menimba ilmu selama 4 tahun, di Universitas Jember, mereka punya event icon yang dikenal hingga manca, yaitu Jember Fashion Carnival yang kini menjadi tourism magnet

Berkat Mas Dinar Fariz & JFCnya, Jember sekarang jauh lebih dikenal dari Probolinggo yang punya “Bromo” dan “Pekalen” sebagai daya tarik wisata. Kalau dipikir-pikir.. Jember dan Bondowoso sama-sama kota kecil, hanya saja Jember lebih dinamis, karena ada mahasiswa dan kampus, tapi jika dibandingkan dengan sumber daya alamnya.. Bondowoso jauh diatas Jember ;) Yakin itu!

Lahirnya Ijen Festival
Sebenarnya di Bondowoso sendiri, sudah ada Festival yang khas dengan culture Bondowoso, Festival Muharram, saya turut bangga karena semenjak kepemimpinan Pak Amin, Bondowoso semakin dinamis dan agamis, tapi sayangnya, festival ini kurang bisa menarik wisatawan, bahkan lebih cenderung “meniru” konsep JFC

Nah dari situ, saya ingin membuat sesuatu yang lain daripada yang lain. Ide menggabungkan antara Festival Budaya, Bahasa, dan Karnaval itu saya dapatkan dari berbagai sumber.

Pertama, secara tidak sengaja, ada seorang teman dari Inggris, yang saya kenal dari project komunitas budaya Islam, yang akan liburan ke Indonesia, dan saya menawarkan kepadanya, untuk mengajar di sekolah sebagai balas jasa menginap di rumah saya. Akhirnya saya bertemu dengan Ustad Madzkur, Kepala Seokal MTs. At Taqwa yang menyambut ide baik tersebut.

Dan sejak itu, pihak MTs. At Taqwa mendaulat saya untuk bisa membantu mengajar di sana, tapi karena saya juga punya kesibukan di Surabaya, saya hanya bisa menjanjikan English Super Camp setiap akhir pekan, dengan tujuan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris siswa, karena mereka juga punya program pada setiap Ramadhan, dimana seluruh siswa wajib ikut Pesantren Ramadhan, dengan jaminan keluar dari Pesantren mahir baca kitab, mahir bahasa Arab.

Belajar bahasa Asing, bagi sebagian siswa adalah malapetaka, karena harus menghafalkan grammar, vocabulary  dan berbagai macam hal susah dari Guru Bahasa Asingnya, nah tantangannya bagaimana bisa menjadikan Bahasa Asing itu sesuatu yang menyenangkan dan siswa tidak takut belajar serta tidak takut salah.

Gayung pun bersambut, saya senang sekali bisa membantu meningkatkan kemampuan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, kemudian saya usulkan ke pihak At Taqwa, kenapa tidak sekalian dibikin acara besar, yang imbasnya tidak untuk siswa At Taqwa saja, tapi untuk Bondowoso, dan bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Singkat cerita, sebuah ide festival tentang budaya dan bahasa sedikit tergambar, saya kemudian floorkan di forum Facebook, seperti sebuah usulan gila pada umumnya, tidak banyak yang menerima dan juga tidak sedikit yang mencibir J . Namun saya yakin, setiap niatan baik selalu ada jalan, bertemulah saya dengan Ahmad Basyofi, yang menyatakan diri mensupport untuk membantu di tim IT. Remaja lulusan SMKN 1 Bondowoso itu, mengajak teman-temannya bergabung dalam tim kepanitiaan On Line, diantaranya adalah Fahmi Luthfillah, Dian Wahyu, Ceca Sesa, dan Radian Reza.

Tak ketinggalan juga, support moral, masukan ide, dan finansial datang juga dari Mas Ario Franata yang sedang bekerja di Qatar, dan Mas Arief Yudhanto yang di Jepang menyatakan diri siap membantu. Mereka berdua menjadi tim SC (Steering Commitee) kami.  Oh ya.. support 100% juga dari sahabat traveling saya, Widy, lajang asal Jakarta yang bekerja di Surabaya yang membantu terlaksananya Ijen Festival

Pertama nama festival ini adalah Bondowoso Festival, tapi hasil diskusi menyarankan untuk membuat nama yang lebih simpel, dan mudah diucapkan, karena untuk kelas internasional, nama yang sulit kurang menarik. Akhirnya kita pilih ‘’Ijen’’ karena spot ini sudah sangat terkenal di dunia. Maka lahirlah IJEN FESTIVAL


Konsep Ijen Festival

Konsep Festival yang saya gunakan, sebenarnya merangkai beberapa konsep festival dan traveling trend yang sedang menjamur dikalangan muda-mudi dunia.

Pertukaran budaya dan bahasa adalah hal yang sangat menarik dan mudah membaur bagi wisatawan asing. Selama ini kemasan pertukaran budaya cenderung kaku dan formal, ditambah lagi kesan belajar bahasa asing bagi kebanyakan siswa Indonesia adalah hal yang angker, gurunya killer

Pawai dan trip gratis adalah hal yang akan menjadi daya tarik wisatawan untuk datang. Ide Pawai budaya saya ‘’curi ‘’ dari kebanyakan festival di Indonesia,  sedangkan trip gratis saya ‘’curi’’ juga dari konsep pemerintahan Selangor Malaysia, yang beberapa waktu lalu mengundang traveller Asia untuk datang ke sana, dengan akomodasi tiket pesawat pp, dalam acara My Selangor Story, sebuah acara promo wisata dengan mendaulat para blogger (penulis dunia maya) sekaligus memberikan apresiasi hadiah kepada penulis terbaik.

Dan konsep ‘’Host’’ saya curi lagi dari konsep cheap traveling trend anak muda, yan dikenal dengan istilah backpacker. Konsep ini sudah dikenal lama di dunia, namun baru marak di Indonesia sejak beberapa tahun. Sebuah jejaring komunitas traveler dunia bernama couchsurfing, yang menyambung silaturrahim antara traveler dunia, memungkinkan kita untuk bisa melanglang buana dengan budget minimum, salah satunya menekan biaya hotel, dengan menumpang menginap di rumah kenalan / host untuk saling bertukar cerita dan budaya.

Dalam Festival ini, kami mengundang seluruh peserta khsususnya traveler dari berbagai belahan dunia. Kenapa traveler ? ya karena komunitas traveler  adalah komunitas yang dinamis, mudah menyesuaikan diri dengan kondisi dan perbedaan budaya. Peserta minimal berusia 18 tahun, dan sudah memiliki passport / KTP

Mereka dipilih berdasarkan pengalaman, hal-hal menarik dan antusiasme nya untuk memeriahkan Ijen Festival. Panitia menyediakan 50 seat, dengan pembagian secara adil untuk turis lokal dan turis mancanegara. Dari ratusan peserta yang mendaftar, akhirnya terpilih 54 peserta, 27 warga indonesia dan 27 warga asing.

Namun sayangnya mendekati hari – H, banyak peserta yang mengundurkan diri, dikarenakan ijin cuti sekolah / cuti kerja dari mereka tidak diperoleh, bahkan ada peserta yang sedang mengikuti ujian kuliah / ujian skripsi tepat pada hari pertama pelaksanaan Ijen Festival, 8 – 10 Juni 2012. Meski demikian tak mengurangi kemeriahan pelaksanaan Ijen Festival.

To be continue Ijen Festival part 2



4 comments:

  1. Congratulations! Sayang baru ngerti sekarang. SO nggak bisa ikut berpartisipasi aktif ;-)

    ReplyDelete
  2. wohooooooooooo seru seru. ditunggu part 2 nya :)

    ReplyDelete
  3. terima kasih mas Edyjo.. semoga tahun depan bisa ikutan ya :)

    Alid.. hehehe thanks ya, ditunggu juga saran kritiknya untuk tulisan saiiiaah :D

    ReplyDelete
  4. Mantap mbak, jadi begitu toh asal mulanya. Hehehe... Jangan patah semangat mencari tempat baru yang lebih 'terbuka' :D Eva

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, sampaikan salam anda disini ya :)