Sejatine Urip Iku Mung Ngampung Dolan

Thursday, July 19, 2012

Jabal Kirmit

Kalau saja Siti Hajar dan Nabi Ibrahim diturunkan di Indonesia, mungkin Tuhan akan memilih Bondowoso sebagai tempat lahirnya Nabi Ismail

Photo Courtesy by : Sugeng Sutanto - Jabal Kirmit Bondowoso
Ingatkah kawan, cerita tentang Siti Hajar yang melahirkan Nabi Ismail di sebuah tempat yang gersang dan tandus, tanpa ditemani Nabi Ibrahim. Kemudian Siti Hajar kehabisan air, dan mengharuskannya berlari dari bukit safa ke bukit marwah sebanyak 7 kali, karena melihat fatamorgana air.

Dan kalau saja itu terjadi di Bondowoso, tentunya tidak perlu lari-lari naik turun bukit, karena tanah di Bondowoso subur dan hijau. Jabal Kirmit, adalah sebuah bukit hijau yang terletak tidak berjauhan dengan kawasan wisata Kawah Ijen, memberikan pemandangan yang sangat menakjubkan. Bahkan saya sendiri, yang asli orang Bondowoso, baru tahu kalau Bondowoso punya bukit-bukit yang indah layaknya pegunungan Alpen, setelah melihat foto-foto karya fotografer kawakan asal Bondowoso. Pak Harry Patriantono dan Koko Sugeng Sutanto.





Pertama kali ke tempat ini,  saya diajak Ceca, tim panitia survey lokasi untuk kegiatan Ijen Festival Juni lalu, sekaligus mengantar beberapa turis asing yang sedang berkunjung Bondowoso.  Terakhir kali saya ke Ijen, sekitar  15 tahun yang lalu, ketika saya masih kelas 1 SMA (wah sudah lama saya meninggalkan bangku SMA ternyata :D). Sehari sebelum berangkat, saya sedikit pesimis, karena sudah lama sekali tidak pernah naik gunung, ditambah lagi badan yang sudah mulai tumbuh pesat heheh.. dan udara dingin yang menusuk, tapi melihat semangat dari pria-pria kecilku kala itu, saya bulatkan semangat untuk ikut survey ke Ijen.
Panorma Menuju Sempol

Perjalanan menuju Ijen, sedikit tertunda karena jumlah motor yang akan kita gunakan, belum cukup. Seharusnya kita berangkat jam 6 pagi, tapi hingga jam 8 kami masih duduk santai di beranda rumah. Sedikit kesal, karena mereka molor dari jadwal, dan tanpa ada konfirmasi telepon atau sms. Tiga turis asing yang stay di rumah saya juga kecewa, karena mereka sudah siap sejak shubuh. Akhirnya kita berangkat menuju ijen jam 9 pagi, dengan berboncengan motor menikmati udara dan suasana kota Bondowoso.


Sampai di pertigaan Tapen – Gardu Atak, kita berbelok kekanan menuju kearah Kecamatan Wonosari, kemudian menuju daerah Kecamatan Sukosari dan Kecamatan Sempol, jalannya sudah aspal mulus dan cukup lebar untuk dilalui dua mobil, bahkan truk besar sekalipun. Udara semakin sejuk, dan pemandangan semakin hijau menemani perjalanan pagi itu. Jalan yang meliuk-liuk dan gunung-gunung yang hijau semakin membuat kita menikmati indahnya Kota Bondowoso. Jarak tempuh dari Kota Bondowoso menuju Sempol, kurang lebih sekitar 60 km,mohon maaf jika kurang akurat untuk jarak,  saya kurang hafal untuk masalah jarak.
Gank Motor 2

Arah untuk menuju kawasan Jabal Kirmit, Kawah Wurung dan Guest House berbeda dengan arah yang menuju ke Kawah Ijen. Rute yang saya lewati adalah dari pertigaan Kecamatan Sempol, pas disebelah warung ada jalan ke kanan, jalannya masih tanah tapi cukup dilewati truk, dan saya sarankan untuk membawa masker, apalagi di musim kemarau debunya OmayHott deh, perawatan muka kelas Miracle pun lewat kalau sudah kesini.

Waktu tempuh yang dibutuhkan juga lumayan lama, tapi memang pemandangan yang disuguhkan benar-benar luar biasa indah, banyak bunga-bunga liar penuh warna yang tumbuh tidak terurus di sepanjang jalan yang kami lewati. Jangan ditanya kami jatuh berapa kali, dan harus turun dari boncengan karena medan menanjak curam, hampir 90o atau menukik tajam. Jalanan pun hanya berupa tanah dan batu makadam, serta beberapa aspal yang sudah mulai rusak, tapi Bung! sensasinya luar biasa bagi yang suka tantangan dan menyukai hal-hal yang berbau adrenalin.

Terus terang saya suka naik motor, tapi ini medan yang bikin saya kapok nyetir sendiri, GILAAA parahh, sumpah saya tobat bawa motor sendiri tapi saya gak kapok kesana, asal naik Pajero hehehe, tapi kata Mas Resta yang bawa Strada aja masih kocar kacir.. wah penasaran kan?! Sepertinya motor yang paling oke untuk diajak kesana adalah jenis motor trail dan motor win, kalau jenis motor bebek tetap bisa, tapi siap-siap turun dari sana masuk bengkel ... lol.
Pelajar SD Kec. Sempol

Meski sudah istirahat beberapa kali, tapi tetap yang namanya punggung, pantat, leher, tangan tidak bisa dikompromi, rasanya tebal semua seperti habis dibius. Kira-kira setelah 2 jam perjalanan, kami sampai juga di Guest House, sebelum masuk ke pekarangan rumah model Belanda ini, kita akan melewati jejeran rumah penduduk yang tertata asri, dengan aneka tanaman bunga-sayur di halaman rumah mereka. Model serta warna rumah-rumah mereka hampir semuanya sama, bernuansa hijau – putih, khas seperti rumah para transmigran. Mereka adalah penduduk Jampit yang bekerja di perkebunan kopi Negara.



Istirahat Sejenak
Kunjungan perdana ke Guest House, yang katanya sudah ada sejak tahun 1928, wah sama dengan tahun almarhum kakek saya dilahirkan, tidak terlalu lama karena sudah menjelang sore, dan kami ingin menuju Jabal Kirmit juga Kawah Wurung. Sayang rasanya tidak bisa menikmati duduk berlama-lama di taman Guest House, tapi apa boleh buat salah kita datang telat :D, dan beberapa bulan selanjutnya, saya beruntung karena bisa berkunjung lagi ke Guest House untuk survey ke-2 Ijen Festival (tuh kan gak bikin tobat kesananya..padahal naik motor lagi hehe). Menurut saya pribadi dan teman-teman asli Bondowoso, sebenarnya guest house biasa saja, hanya ada satu rumah tua bergaya belanda, dan sebuah pohon tua yang cabangnya penuh tumbuhan menjalar, serta taman-taman bunga yang tertata asri, di halaman belakang ada mess yang bisa difungsikan sebagai penginapan juga, tapi menurut salah satu teman kami yang dari Jakarta dan turis-turis asing itu bilang “WOW” takjub dengan pemandangan disekitar sana, mereka bilang seperti sedang berada di Negeri Dongeng, ah mungkin mereka belum pernah melihat warna-warna indah seperti itu, atau memang kota kami seperti surga ya :p 

Guest House – Jabal Kirmit – Kawah Wurung Zone
Beranda Guest House Jampit Sempol Bondowoso
Eits.. jangan dikira ke guest house bisa masuk-masuk seenaknya, bahkan kita gak boleh petik-petik kembang yang ada disana, DILARANG KERAS! Kebetulan waktu kunjungan ke-2, penjaga dan tukang kebunnya lagi bersih-bersih, jadi kami bisa sedikit melongok kebagian dalam Guest Housenya, didalam rumah itu banyak foto-foto peninggalan dan perapian yang masih tertata rapi.  Untuk sewa Guest House, per malamnya sekitar dua juta lima ratus ribu rupiah, dan harus menghubungi Hotel Arabica yang satu manajemen dengan PTPN XII Area Sempol. Udara sejuk, pemandangan yang hijau, taman yang asri  benar-benar membuat lupa waktu, kami merasa waktu berlari lebih cepat dari biasanya, gak rela pulang  masih ingin berlama-lama disana tapi dua spot masih menunggu.


Perjalanan selanjutnya masih sekitar 8km menuju jabal kirmit.. saya menghela nafas panjang, karena ternyata jalannya masih sama parah.. O Tuhan andai aku punya sayap, atau minimal helicopter yang bisa terbang kemana-mana. Sebelum sampai ke Jabal Kirmit, kami melewati padang rumput yang sangat luas, tidak ada rumah bahkan orang yang melintas di kawasan itu, hingga akhirnya kami memarkir sepeda motor, lalu berlarian ke sebuah bukit tepat dihadapan Jabal Kirmit. Subhanallahhh itu saja yang terucap, semua tertegun dalam hening dengan bahasa masing-masing, tunduk pada Kebesaran Tuhan...  Seandainya apa yang kami lihat ini adalah imitasi Surga-Nya, lalu bagaimana indanya Surga-Nya Kelak..?

Tak mau melewatkan momen-momen luruhnya cahaya bumi, kami saling jepret dan bertingkah ala model bernarsis ria, sayang kamera saya out of charge, sedih bukan main karena kawah wurung belum kami kunjungi, untung Sombat turis Thailand dan Adam turis Cina yang juga fotografer mania mau berbagi foto kepada saya, sayangnya foto-foto jepretan mereka yang bagus-bagus tidak di share :( di Facebook.

Guest House Jampit, Sempol Bondowoso
Canda tawa, teriak histeris hingga lompat salto kami lakukan di puncak bukit, hingga akhirnya alam juga yang mengusir kita pulang. Kabut mulai turun, dan kita tidak membawa perlengkapan camping, perjalanan selanjutnya terpaksa harus melewatkan kawah wurung, karena hari mulai gelap. Kami bergegas memacu kendaraan melewati jalan setapak, kondisi badan saya mulai drop, karena pagi sarapan kurang oke, dan siangnya juga tidak makan, tidak ada warung ataupun penjual makanan setelah Kecamatan Sempol, jadi saran saya bawa bekal secukupnya. 

Menjelang magrib, maag saya mulai kambuh, dehidrasi selama perjalanan, karena saya harus menyetir selama perjalanan, kawan saya Thleeal dari Inggris, tidak bisa mengemudikan sepeda motor, meski akhirnya saya harus bawa motor sendiri karena medan semakin curam, sedangkan Ceca terpaksa bonceng tiga dengan Thleeal dan Dian. Hingga akhirnya saya tidak mampu mengemudikan sendiri, entah disebuah desa kecil setelah kami turun, Saya minta berhenti tapi Ceca bilang tinggal sedikit lagi, akhirnya saya dibonceng Ceca dan Dian yang berbadan mungil imut harus membonceng Thleeal yang lebih besar hahah

Malam semakin pekat, udara dingin semakin menusuk tulang, perut saya semakin tak tentu arah, dan kondisi badan sudah drop. Sampai di sebuah kampung, saya minta berhenti di Masjid sebentar, dan ... turun dari boncengan ceca, lepas beberapa detik bleegggghh pingsanlah saya (kata teman-teman). Saya sudah tidak tahu apa yang terjadi, tau-taunya sudah rebahan di kasur dengan selimut tebal, dan ketika saya bangun disuapin teh hangat.. tapi itu masih di Sempol ..OoohhMayHottt.. Bondowoso masih jauhh..!

Jabal Kirmit Bondowoso
Jabal Kirmit, Sempol Bondowoso
Saya sangat berterima kasih kepada teman-teman saya waktu itu, akhirnya saya pulang diantar mobil sewaan, sampai rumah Bondowoso. Semua sempat panic, terutama tiga turis asing yang menginap dirumah saya, mereka merasa bersalah karena merepotkan, tapi saya jelaskan bahwa saya tidak apa-apa hanya butuh istirahat. 

Sebenarnya, pingsan saya itu bukan gara-gara tidak sarapan pagi dan tidak makan siang saja, tapi beberapa hari sebelumnya memang kondisi badan saya sudah kecapekan, seminggu sebelumnya saya sudah pulang-pergi Surabaya – Bondowoso, kemudian teman dari Inggris datang ke Surabaya tiga hari sepulang saya dari Bondowoso, kemudian saya mengantarkan city tour dan ikut join ke Bromo.. nah bisa dibayangkan gimana capeknya badan :D saya kan perempuan hihihi. 

Ok, next time saya akan tulis tentang Kawah Wurung, tapi setelah saya berkunjung kesana ya..!

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, sampaikan salam anda disini ya :)