Sejatine Urip Iku Mung Ngampung Dolan

Friday, November 16, 2012

Obat Galau



Bertemu dengan dia seperti tak pernah kehabisan ide dan energi, bahkan jauh sekali dari galau.. seorang sahabat dekat yang bersahaja

Photo : Googling
Penampilannya sangat bersahaja dan sangat bersahabat. Sesekali aku melihatnya sedang berbincang dalam sebuah forum resmi diantara beberapa pengusaha, berdiskusi panjang dan saling berbagi ilmu. Dilain waktu aku melihatnya duduk ditepi jalan yang sepi, sedang berbincang dengan seorang pengemis, atau kadang sedang bercanda dengan seorang penjual koran di lampu merah.

Pernah juga aku melihatnya sedang membagi-bagikan nasi bungkus di lorong-lorong sepi, kepada tukang becak, gelandangan, ketika semua orang sedang terlelap oleh sinetron dan berbagai hiburan malam menjelang tidur. Dia sendiri yang berkeliling mencari orang-orang itu untuk sekedar memberikan nasi bungkus.

Lalu disuatu sore menjelang pergantian tahun Hijriyah, aku sengaja menemuinya untuk sekedar sharing, dan meminta nasehat agar di tahun mendatang, langkah semakin tearah.

“Kak .. apa sih rahasianya kok rasanya kakak gak pernah sedih ? gak pernah tuh ada status galau yang tertulis..?” tanyaku membuka obrolan sore itu

“siapa bilang kakak gak pernah galau? Kakak sama seperti kamu, perempuan yang sering labil, dan juga dirundung masalah, tapi kakak punya obat anti galau yang paling ampuh.. jadi galaunya gak sampai keliatan di luar”  jawabnya dibalut senyum berlesung pipi
 
Sambil merapikan letak pot tanaman di berandanya, Kak Ina, begitu aku memanggilnya, menyampaikan beberapa nasehat kepadaku. Bagaimana menjalani hidup, menghadapi kehidupan yang tidak juga semakin ringan kedepannya. Kak Ina adalah sahabat sekaligus guru yang telah aku kenal sejak lama, beruntung aku dipertemukan dengannya.

”Jika kamu sedang bersedih, jangan terlalu diikutkan hatimu itu, tanyakan akal sehatmu, apa yang sedang engkau sedihkan, pantaskah engkau bersedih akan satu hal saja? Sedangkan nikmat Tuhan-mu yang lain lebih banyak dari prosentase kesedihanmu” tuturnya sederhana

Aku hanya bisa manggut-manggut, dan meresapi setiap kata-kata yang dia sampaikan. Kalau dipikir-pikir benar juga, dari 100% isi kehidupan kita, kira-kira berapa persen ya tingkat kesedihan yang sedang kita hadapi. Padahal kalau dihitung dengan teliti, kesedihan kita tidak ada seujung kuku. Saya jadi teringat widom word dari seorang teman di Turkey, dia menuliskan:

“When you cry for your failure, your eyes full of tears that can’t make you see the next chance in front of you”

Hmm benar juga ya kak, kita kurang bersyukur, sehingga hanya menangisi kekurangan atau kesusahan yang sedang kita hadapi. trus selain bersyukur, solat, puasa, dan baca quran, apalagi kira-kira obat penawar galau? Tanyaku bersemangat
Lagi-lagi senyum berlesung pipi itu terlihat di wajahnya, kali ini Kak Ina sedikit terpingkal mendengar pertanyaanku yang beruntun. Emang kamu galau apa sih..? kok minta obatnya langsung dosis tinggi? Kelakar Kak Ina

Sambil duduk menyeduhkan teh untukku, Kak Ina dengan sabar menasehatiku. Dia menjelaskan bahwa dalam hidup ini memang kita akan banyak menghadapi luka, bahaya, dan celaka, tapi Tuhan itu Maha Adil, Dia tidak menciptakan suatu penyakit tanpa ada penawarnya, baik itu penyakit badan maupun penyakit hati, dan yang menyebabkan terkenanya penyakit pada diri kita, tak lain dan tak bukan karena ulah kita sendiri yang cenderung bersifat merusak.

”Kalau kamu sedang galau, berbagilah rasa galaumu dengan bersedekah kepada orang yang lebih galau darimu, tapi tidak menampakkannya” paparnya tegas

”Maksudnya kak..?? curhat gitu sama orang yang lagi galau?? Yang ada tambah galau Kak..!” selorohku bingung

”Aduhh kamu itu anak manis.. bukan begitu maksudnya, pernah dengar kan tentang ilmu sedekah? Nah ketika kita sedang galau, sedih, atau tertimpa musibah.. maka tebuslah penawarnya, salah satunya dengan cara bersedekah” Jawab Kak Ina

Photo : Googling
Memang mungkin tidak serta merta saat itu juga, permasalahan atau musibah yang kita hadapi langsung hilang, atau langsung dapat duit pengganti ketika kita bersedekah. Tapi Tuhan menjanjikan kebaikan dari setiap amalan kita, selain itu sedekah itu adalah penolak bala!

Belajarlah rutin bersedekah, dan nikmati sensasi bersedekah! Udah tahu belum sensasi bersedekah itu seperti apa? Kalau kamu udah pernah merasakannya, pasti deh ketagihan. Caranya kak? Sahutku

Coba deh kamu keluar di malam hari, atau siang-siang terik, kemudian kamu berkeliling mencari orang yang membutuhkan, tapi dia tidak meminta-minta, kamu datangi lalu kamu keluarkan uang yang sebenarnya kamu juga sedang butuh banget uang itu. Lakukan, kemudian yakin Allah akan memudahkan kesulitanmu.

Perhatikan orang disekitarmu, yang dia itu sepertinya membutuhkan pertolongan, tapi tidak menunjukkan atau sampai meminta-minta, meski mereka sangat butuh, itu karena mereka menjaga kehormatan diri. Temuilah bapak-bapak tua, penjual balon keliling yang lelah dibawah pohon mencari pembeli, tukang becak yang sedari pagi duduk diatas becaknya, menunggu penumpang yang datang, sambil menahan lapar.  Dekati mereka, lalu keluarkan beberapa lembar uang, dan tataplah matanya dalam-dalam

Datangilah orang-orang yang ketika malam menjelang, mereka masih saja berpacu dengan waktu, mengais rejeki diantara tumpukan sampah, atau orang-orang yang menyerah pada lelapnya malam di bantaran sungai beratap dedaunan, yang mungkin lupa belum makan, bukan lantaran lupa tapi tidak ada uang untuk membeli makan sejak tiga hari lalu. Datangi mereka dan berbagilah apa yang kamu punya meski dengan sebungkus nasi.

Ketika mereka mengucapkan terima kasih penuh takzim, dan menatap mata kita sambil berkaca-kaca, disitulah sensasi sedekah yang akan kamu rasakan, ada rasa damai yang tiba-tiba merasuk dalam hati, dan itu tidak bisa terbeli dengan apapun! Itulah obat penawar galau

Ada cerita nyata dari teman kakak, yang juga melakukan hal ini, katanya ketika sedang membagi-bagikan nasi bungkus di bantaran sungai sekitar Surabaya, saat itu bapak tua pengemudi becak sedang tertidur pulas sekali, kemudian tanpa sengaja teman Kak Ina, memberikan nasi tepat di pelukannya, dan sedikit membangunkan si bapak..

Astaghfirullah..Subhanallah..Allahu Akbar.. teriak Pak becak itu setengah terkejut, terbangun dari mimpinya.. lalu berkata.. aduh mbak saya kaget, saya pikir malaikat terima kasih..terima kasihh... Ya Allahh terima kasiihhh rejeki dari Allah ini mbak.. saya belum makan, dan tadi saya mimpi melihat makanan..

Saya jadi merinding mendengar cerita Kak Ina, bukan karena takut, tapi terharu, betapa kita kadang tidak pernah melihat ada orang lain yang masih lebih sengsara dari kita, dan layak kita bantu.

Lalu lanjut Kak Ina, ada juga cerita lain, seorang teman ketika Bulan Ramadhan, hendak melakukan i’tikaf di masjid, dan sejak pagi dia berniat untuk bersedekah, tapi entah kenapa ia tidak bertemu dengan orang yang tepat menerima sedekahnya, bukannya pilih-pilih, tapi mungkin juga hati ini sudah diatur oleh Tuhan, kepada siapa rejeki kita ini akan mengalir.

Photo : Googling
Hingga malam menjelang sahur, tak juga bertemu dengan orang yang ingin ia sedekahi, akhirnya sebelum meninggalkan masjid, teman kakak ini berinfaq di kotak amal masjid, lalu menaiki motornya pulang untuk sahur dirumah. Dan Subhanallah.. ketika diperjalanan pulang, dia tanpa sengaja melihat orang yang sedang rukuk – sujud di samping sebuah gedung perkantoran di salah satu jalan kota Surabaya.

Tanpa pikir panjang, mesti sudah sedikit jauh, teman kakak ini memutar arah motornya, dan mendatangi orang itu, ketika itu si Bapak sedang duduk takhiyat akhir, ditungguinya si bapak, sampai salam kemudian teman kakak ini menyerahkan beberapa lembar uang. Sontak si bapak kaget, karena didatangi orang memakai helm dan masker penutup anti debu, dipikirnya mau di-garong, tapi malah dikasih rejeki

Ucapan terima kasih dan mata yang berkaca-kaca dari si Bapak, benar-benar sensasi luar biasa yang dirasakan teman kakak kala itu. Dari kejauhan terlihat si bapak meneruskan shalat malamnya di samping gedung tua beralaskan kardus sebagai sajadanya.

Ahh saya hanya bergumam, betapa mulianya orang-orang itu yang terus menyebut Asma Allah dalam keadaan yang jauh dari kemewahan. Betapa malunya saya, yang sedikit-sedikit menulis status berbagi galau berharap galaunya segera hilang dengan berbagi cerita, sedangkan mereka membagi rasa galaunya justru dengan berbagi sedekah kepada orang-orang yang ”mungkin lebih galau” .. maka cukuplah Allah yang akan mengusir ”galau” nya..

Semoga di tahun baru ini, saya menjadi orang yang lebih mau berbagi galau dengan cara bersedekah :) Selamat Tahun Baru ya Kawan.. 1 Muharram 1434 H


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, sampaikan salam anda disini ya :)