Sejatine Urip Iku Mung Ngampung Dolan

Saturday, December 29, 2012

Uang Kotak Amal dan Mal




Tujuh kantong menumpuk di ruang tamu. Ibu dan Putri baru pulang dari mal. Ayah memandang semuanya tanpa kata. Demikian juga Irvan. Dalam situasi begitu, Ayah tahu, Ibu bisa sensitive mendengar komentar apapun.

“Belanjaan Putri banyak,” tutur ibu, entah ditujukan kepada siapa. Putri menatap Ayah dan tersenyum penuh makna.

“Tidak apa-apa, asal sesuai kebutuhan,” kata Ayah.
“Hampir satu juta lebih,” gumam Ibu. Angka itu tidak jelas
“Lebih dari satu juta, Mam. Persisnya satu juta enam ratus empat puluh, belum termasuk taksi,” timpal Putri seraya menyodorkan setumpuk nota.
“Duit kalau dibawa ke mal, nggak ada harganya.”
”Maksud Mama?!?” tanya Ayah.
”Yaa, perasaan tadi Cuma belanja sedikit. La wong niatnya Cuma jalan-jalan. Eeeee, malah belanja dan kebablasan!”
”Uang itu punya kekuatan aneh. Rp 100ribu kalau dibawa ke mal terasa tak berharga. Tapi terasa terlalu besar untuk dibawa ke masjid, untuk kotak amal. Karena itu, yang sering ke masjid justru uang yang bergambar Kapitan Patimura. Bukan Bung Karno dan Bung Hatta,” kata ayah.
”Padahal mereka lebih pantas ke masjid karena sudah pakai kopiah,” seloroh Irvan.
”Umar bin Khattab memberi pelajaran soal belanja. Ketika berjalan di pasar, kepala negara itu melihat sahabatnya membawa banyak sekali barang belanjaan. Umar pun bertanya, mengapa ia membeli begitu banyak barang?”
”Apa jawabnya?” tanya Irvan.
”Sahabatnya menjawab, karena ia ingin membelinya! Mendengar itu, Umar marah. ’Apakah engkau akan membeli setiap yang engkau inginkan?!’ Pertanyaan Umar itu relevan karena nyatanya memang kita suka membeli sesuatu yang sesungguhnya tidak kita butuhkan. Hanya karena menginginkan. Kebiasaan buruk tidak sesuai ajaran Islam!”

”Kita butuh kesalehan finansial,” celetuk Irvan.
”Benar sekali! Orang dengan kesalehan finansial cermat dalam memilih cara memperoleh uang dan teliti menggunakannya. Uang mesti didapatkan dari sumber yang baik dan halal, dan dipergunakan untuk hal-hal baik. Semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya. Di dunia dan di akhirat.”

”Ya, Putri pernah membaca dalam Al Quran, Allah membimbing kita bagaimana seharusnya seorang Muslim membelanjakan hartanya. Tidak boros, tapi juga tidak kikir.”
”Itu surat al-Furqan ayat 67,” tukas Ibu. ”Orang boros disebut temannya setan!”
”Boros dan kikir itu tindakan tidak cerdas dan tidak saleh. Boros mencelakakan diri sendiri dan kikir membuat orang lain menderita. He he he,” kata Irvan.
”Ada empat masalah yang akan dipertanyakan di pengadilan akhirat. Sabda Rasulullah, pertanggungjawaban itu menyangkut umur untuk apa dihabiskan, ilmu untuk apa dipergunakan, hartanya dari mana didapatkan dan untuk apa dibelanjakan, tentangraganya untuk apa dia pergunakan.”
”Soal kesalehan tadi?” tanya Ibu.
”Intinya, bersikap bijak terhadap uang. Sebab uang merupakan karunia Allah sekaligus amanah. Harus disyukuri dan dipergunakan secara cermat. Hanya dipergunakan untuk yang bermanfaat bagi diri, keluarga, dan masyarakat.”
”Alangkah bagusnya kalau kesalehan finansial dimiliki penguasa, politis, anggota dewan, pejabat. Bisa meredam syahwat korupsi untuk menimbun harta.”
”Jangan-jangan sekarang kita sudah hidup di zaman yang pernah digambarkan Rasulullah sekian abad yang lalu. Kata beliau, akan datang sebuah zaman dimana orang tidak lagi peduli dari mana dia mendapatkan harta; apakah lewat jalur halal atau haram.”
”Sedihnya sekarang ini pelau korupsi banyak juga dari kalangan perempuan. Mereka dikenal sebagai sosialita, figur publik, dan pemegang jabatan terhormat,” celetuk Irvan.
”Loh!? Kenapa mesti bawa-bawa jenis kelamin segala?!” sergah ibu membuat Irvan gelagapan.
”Mungkin Irvan pikir perempuan lebih bersih, lebih tidak suka menyuap, dan memiliki moral yang lebih baik. Faktanya, perempuan dan laki laki sama-sama berpotensi menjadi pelaku korupsi sekaligus korban perilaku koruptif.”
”Kalau perempuan ikut-ikutan korupsi, boleh jadi karena mereka minoritas yang berada di lingkungan buruk yang mayoritas dikuasai laki-laki.”celetuk Putri.
”Ya sudahlah. Yang jelas korupsi itu kejahatan berat yang harus ditindak tegas. Siapa pun pelakunya, lelaki atau perempuan. Kan Rasulullah sudah tegas memberi contoh : Sungguh andai Fatimah putriku mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya! Pernyataan Rasul itu merespon permintaan agar memberi keringanan hukuman untuk pembesar yang mencuri.”

Oleh : Zainal Arifin Emka
emkatanggul@gmail.com

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, sampaikan salam anda disini ya :)