Sejatine Urip Iku Mung Ngampung Dolan

Saturday, February 9, 2013

Bukit Malawati : Puncak Kejayaan Negeri Selangor



Menu makan siang kali ini adalah Nasi Ayam, sajian khas dari Restoran Sepoi-Sepoi di Golden Palm Tree. Siang yang terik sebelum kami meninggalkan resort yang cantik ini, ditemani es kelapa muda yang telah di mix sari dan buahnya, menyegarkan pikiran yang mulai lelah.

Siang ini rencananya akan mengunjungi Bukit Melawati di Kuala Selangor,  seusai info yang saya terima kita akan naik trem keatas bukit, dan disana sudah ada keluarga besar yang akan menyambut kedatangan kita, yaitu monyet-monyet bukit he he he




Bukit Malawati, merupakan salah satu tempat bersejarah di Selangor, boleh dibilang bukit ini adalah puncak kejayaan Kesultanan Selangor pada masanya, Saya kurang tahu jelas berapa ketinggian bukit ini, yang jelas ketika berada di puncaknya kita bisa mengamati pemandangan yang luas membentang menghadap Delta Malaka.

Sejarah menulis, tempat ini adalah kubu pertahanan Kesultanan Selangor pada masanya, untuk memantau pergerakan kapal-kapal dagang maupun kapal perang yang melintasi Selat Malaka dan Kuala Selangor. Nah itu mengapa saya member judul tulisan ini sebagai Puncak Kejayaan Negeri Selangor, karena dari sinilah Kesultanan Selangor bisa memantau dan mengawasi segala aktivitas rakyatnya maupun aktivitas penyusup dan musuh yang ingin memerangi Negeri Selangor pada masa itu.

Kami berhenti di tempat pemberhentian trem, semua turun dari bus dan seperti biasa aksi jeprat-jepret pun dimulai. Pengunjung lain juga sedang antri untuk naik trem menuju bukit. Waktu masih di Golden Palm Tree, “trem” saya pikir seperti kereta listrik di Inggris atau sejenis kereta seperti yang ada di Penang Hill.. wahh saya salah besar, kalau di Surabaya ini mah bukan trem heheh.. ini namanya kereta mini, atau biasa disebut odong-odong ha ha ha, tapi seru juga


Jujur saya tidak terlalu tertarik dengan spot yang satu ini, kenapa..??! bukan karena tempatnya tidak cantik.. tapi karena ada MONYET! Ada trauma masa kecil dengan binatang satu ini, waktu kecil saya sering diajak tamasya keluarga baik dalam kota maupun luar kota, dan Bali menjadi tujuan paling sering dikunjungi, Nah… tahu kan Sangeh tempatnya apa??

Trauma saya berawal dari sini, saya sedang berjalan melenggang dengan sandal baru dari Ibu, tiba-tiba ada monyet yang naik keatas kepala saya, sontak saja saya langsung teriak nangis ketakutan. Sejak itulah saya tidak suka dekat-dekat dengan hewan, apalagi monyet. Anyway the show must go on, saya harus tetap ikut tur meski dengan hati was-was.


Selama perjalanan menuju puncak bukit, saya melihat beberapa bangunan dan makam Raja-Raja, dan satu yang mengusik keingintahuan saya, ada tulisan “Perigi Beracun”, tapi sayang kami tidak berhenti disitu. Entah apa arti perigi tanya saya dalam hati, yang jelas ada tulisan “poisoned well” itu berarti sumur beracun.


Konon ceritanya, sumur itu dulunya diisi dengan ramuan getah-getah dan daun beracun untuk diberikan kepada para pengkhianat Negara. Tapi sekarang sumur itu sudah tidak beracun lagi, hanya terisi oleh air hujan, namun ditutup untuk keamanan pengunjung.


Kami turun tepat di depan jejeran meriam tua yang sudah tidak berfungsi lagi, saya melihat jejeran meriam tua berwarna hitam, yang menghadap tepat ke selat malaka. Di samping jejeran meriam ada sebuah bangunan menyerupai musholla, dan ternyata itu tempat untuk melihat hilal – saat menentukan awal dan akhir puasa Ramadhan.


Di bagian belakang jejeran meriam itu, ada sebuah bangunan yang dulunya adalah kediaman resmi pegawai Daerah Kuala Selangor, di halamannya juga ada mercu suar tapi tidak tahu jelas apakah masih berfungsi, karena hari itu museum sedang tutup libur nasional, jadi kami tidak bisa mengeksplore lebih banyak.

Nah diujung jalan yang lain, monyet-monyet hitam berekor panjang sudah menunggu kami. Saya berusaha meredam rasa takut, meski wajah tidak bisa menyembunyikan, saya berjalan dibelakang orang lain, jadi kalau terjadi apa-apa tinggal saya peluk minta tolong hehehehe maunyaa.. !

Rasanya saya ingin segera keluar dari tempat itu daripada stress ketakutan, karena ada seekor monyet kecil yang entah kenapa tergeletak di pinggir jalan, kemudian ketika bang Syafrie mencoba mendekati untuk memeriksanya, si induk monyet itu tadi langsung lari menghampiri dan berteriak, seolah memanggil kawanannya, kemudian tiba-tiba monyet jantannya datang, dan mereka berdua saling berteriak-teriak, seolah menangisi kondisi anaknya yang malang tak bernyawa.

Kami semua berusaha menjauh, menandakan tidak ingin mengganggu, kemudian dua induk monyet itu, membawa bangkai anaknya ke gerombolan monyet yang lain. Ya mungkin mereka mencari tahu, kenapa anaknya bisa mati. Sedih deh jadinya. Oh ya Monyet ini tergolong unik, karena ketika masih kecil bulunya berwarna kuning keemasan, sedangkan jika sudah mulai beranjak dewasa, warnanya akan berubah menjadi hitam abu-abu. Sekilas bentuknya mirip kartun marsupilami :D

Okey.. trem sudah datang, saatnya kita pulang untuk melanjutkan perjalanan ke kampung kunang-kunang. Dan dalam perjalan menuju Kampung Kuantan, kami berhenti di Restoran River View untuk makan malam, lebih awal sih dari jadwal makan biasanya, ini karena perjalanan ke Kampung kunang-kunang akan memakan waktu sedikit lama.





Restoran disekitar tempat ini, Kuala Selangor, kebanyakan menjual menu masakan seafood  dan restoran river view yang kami datangi, adalah yang paling enak diantara tempat lain. Ciri khas restoran Cina, mereka selalu menggunakan meja bundar daripada meja persegi.

Menu masakan yang disajikan semuanya lezat, dan tuntas habis oleh kita semua.. langsung saja dilihat foto-fotonya ya..

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, sampaikan salam anda disini ya :)