Sejatine Urip Iku Mung Ngampung Dolan

Sunday, March 30, 2014

The Tourist of Surabaya

Maret tahun ini, Alhamdulillah lebih dari empat kali saya mendapatkan "side job" sebagai tour guide untuk turis-turis asing yang berkunjung ke Surabaya melalui kapal pesiar yang kabarnya berkeliling Asia. 

Surabaya adalah salah satu kota yang dikunjungi setelah Jakarta, Semarang, kemudian Probolinggo dan Bali, tapi sebenarnya peta kunjungan mereka tidak melulu ke kota-kota tersebut, tergantung dari paket trip kapal pesiar yang mereka ambil. Kadang sebelum berlabuh ke Tanjung Perak, pelabuhan besar di Surabaya, mereka juga diajak berkeliling ke Pulau Komodo, Lombok, hingga ke Makassar.

Pertama kali mendapatkan "cruise guide" atau pemandu wisata turis kapal pesiar ini, saya didapuk untuk mengantar turis asal Kanada kalau saya tidak salah ingat. Dan di bulan maret ini, empat kali menerima tamu asal Amerika, ada yang dari Philadelphia, San Fransisco, New York, Seatle dan Florida. 

Rata-rata pelancong kapal pesiar adalah "retired" alias pensiunan yang sedang menikmati masa tuanya. Ada yang bersama teman-temannya, tapi lebih seringnya mereka adalah pasangan suami istri yang sudah beranak pinak dan cucu bahkan ada yang sudah punya cicit. Kondisi kesehatan mereka masih sangat prima, bahkan saya sering salah mengajukan tebakan usia 10 tahun lebih muda dari usia mereka.

Para turis tersebut rata-rata berumur lebih dari 60 tahun, memang tidak semuanya dalam kondisi prima, ada yang bermasalah dengan lututnya, ada yang bermasalah dengan sengatan terik matahari Surabaya, tapi itu tak menjadi soal buat mereka. Bahkan saya pernah mengantar turis asal Philladelpia, seorang nenek berusia 70 tahun, tapi saya ngos-ngos-an jalan mengikuti langkahnya yang lebih cepat dari saya blusukan ke pasar tradisional Pabean.. O la la .. saya butuh lebih banyak olahraga. 

Minggu kemarin, rombongan turis yang saya bawa ada delapan orang, awalnya sebelas namun karena alasan kesehatan, tiga orang dari mereka membatalkan ikut berlayar. Saya adalah orang paling buruk dalam mengingat nama, yang saya ingat adalah nama Mrs. Linda Mulnick, salah satu leader dalam grup tersebut yang booking trip melalui e-mail. 

Mrs. Linda dan suaminya berasal dari New York, dan tiga pasangan lainnya berasal dari Toronto Canada, San Fransico dan Florida. Mrs. Linda di usianya yang ke 72 masih terlihat sangat cantik dan modis, ketika saya tanya apa rahasianya, dia menjawab saya menjauhi tersengat matahari langsung, karena kulit saya sangat sensitif, jelasnya dan saya pun menjawab ahaa I see. 

Saya membawa mereka mengunjungi menara 99 meter dari Masjid Al Akbar untuk melihat Surabaya dari top view, selama perjalanan mereka terlihat sangat menikmati Surabaya. Tak jarang banyak pertanyaan yang mereka lontarkan, yang saya sendiri sedikit susah menjawabnya. 

Sambil saya bercerita tentang asal mula Kota Surabaya, dengan bahasa Inggris yang kadang terbata-bata, karena saya lupa istilah dalam bahasa Inggrisnya, mereka mencoba memahami apa yang saya sampaikan. Bahkan mereka memberikan tepuk tangan karena walikota Surabaya adalah perempuan, sangat mendukung dengan perda larangan merokok di tempat umum, dan memuji tata kota serta lingkungan yang hijau, meski tak jarang juga mereka mencela kota dan kebiasaan buruk masyarakat Indonesia pada umumnya. 

Seperti suami dari Mrs. Linda, seorang lelaki yang sudah berumur 70 tahun lebih, beliau adalah orang yang ramah, senang bercerita dan juga baik. Ketika berhenti di Rumah Gadang jalan Gayungsari Injoko, bapak ini menanyakan kenapa orang-orang disini suka membuang sampah sembarangan? apakah mereka tidak peduli dengan lingkungan, atau tidak adakah aturan yang dibuat untuk menjaga lingkungan? hingga bertanya apakah di Negerimu tidak ada senator yang peduli dengan keberlangsungan lingkungan??

Tidak berhenti disitu saja pertanyaannya, beliau lalu bercerita tentang New York, tentang masa-masa dimana masyarakat disana juga suka membuang sampah sembarangan, dan itu terjadi di era tahun 60-an, paparnya geram. Sekarang sudah tidak ada lagi orang yang membuang sampah sembarangan. Dia menceritakan bahwa konsep mencintai lingkungan diusung oleh salah seorang senator disana, hingga akhirnya mencetuskan peringatan hari bumi - Earth Day yang terus diperingati hingga sekarang.

Ketika itu, saya hanya bisa tersenyum dan sabar mendengarkan ceritanya, hingga masuk kembali ke mobil. Di dalam mobil saya mencoba menjelaskan perlahan, bahwa di Surabaya sekarang ini jauh lebih baik dibanding beberapa tahun yang lalu. Surabaya kini lebih hijau, lebih asri, dan lebih nyaman.

Sudah ada peraturan daerah yang diberlakukan yaitu denda atau kurungan bagi orang-orang yang membuang sampah sembarangan, tapi memang belum berjalan sempurna, dan untuk merubah kebiasaan buruk orang-orang dalam membuang sampah, butuh waktu yang tidak cepat. Sekarang kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, mencuci tangan itu diajarkan mulai anak-anak hingga menjadi muatan lokal sekolah-sekolah mulai TK. 

Saya juga jelaskan bahwa di Surabaya, juga ada kampung green clean yang mengajak seluruh masyarakatnya untuk mengolah sampah rumah tangga dengan bijak, yaitu dengan cara memisahkan sampah plastik dan sampah non plastik. Sampah plastik didaur ulang menjadi sovenir dan berbagai produk yang layak jual, sedangkan sampah organik (non plastik) diolah untuk menjadi pupuk.

Hmm,.sedikit lega saya bernafas, karena mereka menerima penjelasan saya sambil manggut-manggut.. eittss ini pertanyaan selanjutnya dari suami Mrs. Linda.... Oke Ericka, lalu bagaimana dengan sistem pembuangan di rumah-rumah? apakah ada saluran yang langsung menuju tempat pengolahan limbah dari tiap rumah-rumah? Bagaimana kamu menangani pengolahan tinja.

Saya menjawab sekenanya, ya setiap rumah membangun septic tank untuk menampung limbah rumah tangganya, tapi kami tidak punya saluran pipa yang langsung menuju ke pengolahan limbah, sahut saya. ... So apakah kamu menyedot dengan mobil tinja? .. Ya kami ada mobil penyedot tinja yang datang ke rumah-rumah. Lalu kemana kamu membuang limbah itu? ..o ooowww .. seluruh penumpang di mobil mengatakan, I don't want to know Ericka.. hahahaha.. tapi suami Mrs. Linda masih penasaran, saya sendiri juga tidak tahu, kemana mobil tinja itu bermuara?

Akhirnya saya jawab diplomatis, ya mereka itu membuang limbahnya ke pengolahan limbah.. jawab saya datar. apakah benar begitu ya kawan?? :D

Aihh banyak yang ingin saya ceritakan tentang pengalaman menjadi tour guide, tapi ini dulu aja deh..

1 comment:

  1. halo kakak, saya tertarik menjadi tour guide freelance seperti kakaknya bagaimana ya caranya?

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, sampaikan salam anda disini ya :)