Sejatine Urip Iku Mung Ngampung Dolan

Tuesday, February 24, 2015

Senja di Teluk Benggala


Photo Credit : Internet Browsing

Kecipak air berbunyi riang menggelayut basah pada jemari kaki, melewati parit-parit sungai penuh dengan rumput liar, hijau menutupi sepanjang aliran sungai menuju muara hingga pertemuan antara dua benua

Kulemparkan pandangan penuh harap, untuk segera sampai pada muara. Membenamkan jemari kaki yang telah lelah lama berjalan melewati hutan hujan yang lembab basah dikelilingi onak berduri. Tak kuhiraukan goresan lembut pada betis dan kaki oleh belukar kering yang terkadang perih tersengat keringat. Aku ingin segera menuju ke muara

Entah berapa lama aku menghabiskan perjalanan, melewati ribuan sungai, menyusuri hutan hujan hingga mangsa ketiga akan segera datang. Pertanda sungai tak akan dialiri air, rumput akan segera mengering, dan ikan-ikan pun akan segera menyeberang ke muara menuju pertemuan dua benua.

Andai saja waktu bisa aku genggam sejenak, ingin berdiam saja ditepian sungai berparit ini. Membasuh goresan-goresan luka, membasahi senyum yang mulai mengering. Tak kan kuhiraukan muara dan benua, jika saja aku mampu menggenggam masa mengajaknya berdansa, hingga datang waktu senja.

Oh Tuhan, sudikah Engkau menjetikkan jemari tanganmu pada lintasan bumi, agar berhenti sejenak menari mengitari matahari? Sudikah Tuan memanjangkan siang, barang seperempat waktu saja ..? Pintaku dalam langkah setengah terhuyung menyusuri parit hijau menuju muara teluk Benggala

Sejenak aku mendongak, rupanya Tuhan tak memperkenankan pintaku, matahari melewati batas tengah hari, seolah memberi senyuman manis pada senja yang sedang asyik bercengkrama menikmati deburan ombak muara teluk benggala. Dan aku pun berlalu berjalan berjingkat melewati pekat.

Senja semakin melambai seolah ingin segera memeluk matahari, kupercepat langkah meski berat kaki terbebat selimut parit yang rapat. Kuhempaskan nafas terengah di sela-sela parit, mengusap peluh yang menggigit goresan luka belukar disekujur leher, lengan dan betis. Menerbangkan kaki yang enggan berkecipak dengan keruhnya parit, berlari kecil menuju muara

Tepat di penghujung siang mendekati sore, jemari kakiku bertemu pasir lembut berwarna putih sendu, hangat berpadu perih air garam yang tertawa kecil mengendus manja kaki-kaki lelahku. Betapa girang riangnya hatiku, muara sungai pertemuan dua benua ada di bawah jemari kakiku. 

Kulupakan semua goresan luka disekujur kepala hingga kaki, asyik begelut menari bersama deburan air garam yang tak pernah kasat oleh mentari. Aku merayakan kemenangan jiwa diantara deburan ombak teluk Benggala. Berteriak sejadi-jadinya meski perih menggigit bak ribuan semut berebut gula disekujur tubuhku, tapi tak jua menghentikan kegilaanku bersama ombak.

Photo Credit : Internet Browsing
Lelah yang teramat sangat masih terasa, namun kubiarkan saja raungan raga menahan sakit yang terbalut riang kemenangan jiwa. Ya.. aku telah sampai di muara, tepat sebelum senja membenam cakrawala. Dalam remang kejauhan, terlintas Harimau Benggala menatap dibawah dedaunan pohon waru, rahangnya mencengkeram kelu suara auman, berharap menggema melintasi muara dua benua. 

"Tuhan .." pintaku sebelum senja terbenam .. "sudikah Engkau menyampaikan kasihku padanya, bahwa aku telah sampai di Muara, akan kukirimkan doa-doa panjang untuknya, sebagai ucapan terima kasih setia menjagaku, mengajariku tersenyum dalam suka dan duka hingga aku menemukan jalan panjang menuju muara" 

Bahwa setiap perjumpaan akan menemukan perpisahan, entah dalam waktu dekat atau esok ... semua adalah kepastian 

Teluk Benggala Senja ini

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, sampaikan salam anda disini ya :)