Sejatine Urip Iku Mung Ngampung Dolan

Wednesday, November 15, 2017

Elegi Pagi dan Secangkir Kopi untuk Negeri

Ritual Pagi dalam Segelas  Kopi

Menyambut pagi membuang sepi ... sebuah lirik lagu sendu milik Ebiet G Ade yang mengalun lembut dari channel youtube yang saya putar, sepertinya pas menemani ritual pagi dengan secangkir kopi.

Kali ini saya memilih duduk menikmati sejuknya udara pagi diatas teras balkon rumah ibu, dinginnya setara suhu AC 18 derajat diwarnai langit biru berawan putih tipis dan kicau burung gereja yang sejak pukul lima tadi riuh bercicit dengan kawanannya.

Beberapa serangga tak dikenal pun ikut terbang mengitari daun salam dan bunga kamboja yang mekar mewangi dalam pot yang mulai usang dimakan waktu. Sedangkan barisan semut hitam sibuk menunggu antrian menyeberangi tautan genteng karang pilang, buatan pabrik di Mojokerto yang masih terlihat kokoh menaungi rumah ini. 

Suasana pagi ini sedikit sendu meski mentari perlahan berusaha mengoyak mendung selepas hujan semalam. Warna-warni genteng dan hijaunya daun pohon sono yang segar dibalut embun seolah menjadi supporter yang membantu mentari menceriakan hari.

Di kejauhan nampak pegunungan Iyang sedikit samar oleh kabut, hanya sudut tegas gunung Ardi Saeng yang kelihatan hijau keemasan, bentuknya menyerupai bangunan piramid di Mesir. Kadang saya bertanya-tanya adakah misteri yang tersembunyi pada gunung itu, mengapa bentuknya begitu tegas tidak seperti gunung lain pada umumnya, mungkinkah ini piramida yang kedua di tanah Jawa setelah Gunung Padang?

Ah .. jawaban itu tidak pernah saya temukan, karena saya juga belum bertemu dengan orang yang tepat untuk menanyakannya. Saya coba palingkan pandangan ke sebelah timur rumah ibu, waktu saya kecil puncak gunung Ijen samar-samar terlihat berdampingan dengan puncak gunung Raung tapi sayangnya kini tertutup oleh bangunan rumah yang saling berebut menjulang tinggi seolah tidak ada aturan yang perlu ditaati.

Roof Top View from my Balcony

Pohon beringin tua di makam dekat sekolah saya juga sudah tidak nampak dari balkon ini, begitu juga dengan pemandangan gunung disebelah utara kota, meski saya tak paham betul nama-namanya karena sedikit data resmi yang bisa saya temukan dari website pemerintahan Bondowoso, tentang nama-nama gunung beserta rincian angka ketinggiannya. Cukuplah memandangnya dari kejauhan sudah membuat hati ini merasa tentram dan membuktikan bahwa gunung itu tinggi menjulang.

Lalu pandangan saya palingkan pada langit tepat diatas kepala saya, warnanya biru menyejukkan mata. Sejenak ingatan mengenang masa kecil ketika bercengkrama dengan kakek sepulang sekolah sembari rebahan di lantai terasnya, bercerita tentang bentuk-bentuk awan yang silih berganti menggoda imajinasi untuk kritis berkreasi.

Saya bersorak gembira ketika menemukan bentuk hewan-hewan maupun permen coklat  di langit, terkadang juga hanya menjumpai tumpukan awan menyerupai kapas kapuk yang bergelantungan di pohonnya. Saya sangat gembira menyaksikan layar lebar semesta dan juga terkagum-kagum pada Tuhan akan ciptaan-Nya.

Ketiga Pagi Menjelang

Apakah anak-anak jaman sekarang juga senang melihat awan? ataukah mereka sudah terlalu sibuk oleh ratusan pekerjaan rumah dan jadwal kursus yang dibebankan setiap harinya sepulang sekolah sehingga tak ada waktu sejenak menyegarkan pikiran untuk sekedar melihat awan agar bisa berpikir jernih ketika menghadapi perubahan jaman.

Hmm tak terasa musik telah berganti pada lagu band indie yang bertajuk Dialog Hujan, liriknya masih tetap tentang rindu ... 

Bicara Rindu .. Bicara Haru ... 
Bernyanyi Merdu ..Bernyanyi Sendu
Bebaskan Birunya hatimu ...

Alunan musiknya yang tenang menambah kesejukan ngopi pagi ini, membawa saya jauh menapaki ruang waktu dan kerinduan yang menggumpal pada masa-masa itu, ketika dunia masih sebatas cerita televisi tentang sabun cuci dan remah roti, dunia yang murni dan sunyi tanpa basa basi.

Rindu pada masa kejujuran menjadi yang utama, rindu pada ketulusan kala menjadi hal yang dipuja diam-diam, rindu pada kedamaian menikmati secangkir kopi tanpa beban bualan anggota dewan, rindu pada pemimpin yang diam-diam menemui rakyatnya dikeheningan malam, dan rindu pada negeri yang membiarkan bangsanya bersatu dalam perbedaan tanpa ada paksaan.

Apakah anda juga rindu masa-masa itu? Meski banyak orang "alumni" 98 mengatakan bahwa masa-masa itu adalah masanya si tangan besi, yang penuh dengan represi tapi herannya masyarakat semua bisa makan nasi, meski hidup seolah dalam kurungan besi.


Bandingkan dengan jaman sekarang, semuanya bebas berekspresi, bebas berdemontrasi, bahkan bebas untuk saling mengeksekusi tanpa perlu mediasi, tapi tidak semua rakyat bisa makan nasi, tidak semua orang bisa hidup bergengsi, semuanya penuh basa-basi, dan hanya rebutan kursi.

Sepertinya budaya tenggang rasa dan sikap legawa sudah hilang dari negeri ini. Semua mengatasnamakan kepentingan kelompok yang sebenarnya dibalut rapi dengan kepentingan pribadi. Sudah tidak ada lagi budaya gotong royong yang benar-benar murni, semuanya penuh tendensi, kalau hari ini aku datang dengan secangkir kopi, maka besok giliranmu membawa sepiring nasi.

Kamboja

Barisan semut sudah sampai pada ujung genteng sebelah utara, sedangkan serangga juga sudah bosan mengitari kuncup bunga kamboja, nampaknya burung gereja juga sudah lelah berlatih paduan suara, persis seperti rakyat Indonesia yang sudah sangat lelah menyaksikan cuplikan berita penuh perkara.

Ahh .. Akupun sudah lelah menunggu cahaya perubahan meski belum banyak yang aku lakukan, ada baiknya kusudahi saja ritual kopi pagi ini dan membiarkan alam bekerja menceriakan hari. Semoga masih ada harapan bagi anak-anak negeri, yang lama memendam rindu pada tepian tak berperi.

Salam untuk Negeri, dari balkon tingkat rumah ini
Selamat Hari Pahlawan !






6 comments:

  1. Sukak deh sama tulisannya.
    Btw pengen deh suatu hari besok punya rumah yg ada balkonnya di teras atas. Biar bisa me time, entah sekedar membaca atau menyendiri, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih mbak Inge sudah mampir :) hehehe iya semoga keinginannya terwujud segera amiin ya mbak

      Delete
  2. Paling suka sama kalimat yang ini >> Bandingkan dengan jaman sekarang, semuanya bebas berekspresi, bebas berdemontrasi, bahkan bebas untuk saling mengeksekusi tanpa perlu mediasi, tapi tidak semua rakyat bisa makan nasi, tidak semua orang bisa hidup bergengsi, semuanya penuh basa-basi, dan hanya rebutan kursi.

    Kewrenn Mba! ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak Anggraeni :) sudah berkunjung kesini

      Delete
  3. awal paragraf menggunakan 'saya' dan ketika di akhir ber-ubah menjadi 'aku'

    #hahahahahahahahahaha...

    Saya suka analoginya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahah ... sudah kuduga akan di lirik tentang itu hahahaha, terima kasih sudah berkunjung senang sekali mendapat banyak masukan dan kritikan dari apa yang saya tulis

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung, sampaikan salam anda disini ya :)