Sejatine Urip Iku Mung Ngampung Dolan

Sunday, September 30, 2018

Pelacur Indonesia di Red District Amsterdam

Suasana Red Light District Amsterdam

Pernah dengar Red District Amsterdam? kawasan yang sering dihindari atau bahkan malah bikin penasaran turis ketika singgah di Negeri Kincir Angin ini.

Selama delapan bulan saya pindah ke Belanda, belum pernah saya mengunjungi kawasan ini, karena saya pikir bakalan aneh mengunjungi tempat tersebut meski saya juga penasaran seperti apa sih kawasan prostitusi Belanda.

Nah akhirnya ada yang ngajakin jalan ke kawasan ini tapi mampir dulu ke museum Red Light Secret Amsterdam. Sebuah museum tentang kehidupan dan pelaku prostitusi di Belanda tepatnya di belakang Damstraat, jalan utama di pusat Amsterdam yang selalu ramai oleh turis baik siang maupun malam hari.

Macem-macemnya Pelanggan

Agar bisa melihat "aura" red district sebaiknya berkunjung di malam hari selain bisa mampir ke museum juga bisa mampir ke dolly .. #eh! 
Saya juga gak ngerti kenapa disebut kawasan Red District, mungkin karena lampu-lampu temaram dan warnanya merah atau bisa jadi ini zona terlarang he he he.


Sejarah Red District

Untung ada bantuan tante wiki .. ternyata kawasan Red District punya nama loh! De Wallen atau Walletjes (baca : waleces) yang diambil dari nama jembatan penghubung canal di sekitar sungai Amstel, ujung pertemuan jalan Rokin dan Damrak.


Konon jembatan ini dibangun pada tahun 1270 yang berfungsi sebagai pintu air untuk mencegah banjir, kata walletjes itu berarti tembok kecil. Kawasan ini dulunya merupakan bagian dari pelabuhan Amsterdam yang ramai oleh pedagang dari berbagai kota maupun dunia, dan dari situlah praktik prostitusi bermula.

Pedagang yang berlayar jauh dari rumah haus akan belaian perempuan ha ha ha bertemu di pojokoan canal uh ah uh ah.. eh maksudnya "bertransaksi" meski pada saat itu masih taboo dan illegal.

Kemudian pada tahun 1578, ketika revolusi Belanda melawan Spanyol pecah, segala bentuk prostitusi dilarang bahkan laki-laki menikah dan pendeta tidak boleh memasuki kawasan ini. Perempuan pekerja sex alias pelacur pun dicekal serta dikucilkan. 




Para pelacur lebih memilih bekerja kepada seorang "mami" yang bertugas sebagai "manager" menawarkan ke pria-pria hidung belang di pusat-pusat perjudian ketika itu, istilahnya door to door sales .. duhh apaa sihhh ha ha ha!

Setelah mereka mendapat pelanggan maka si PSK akan mengajak "pembeli" nya untuk kembali ke brothel atau rumah bordir mereka, kemudian dibayar tunai .. syah! transaksi selesai.

Nah .. ketika era Napoleon di tahun 1811 kawasan ini menjadi booming karena peminatnya bertambah, bahkan kawasan ini menjadi legal dan tidak taboo lagi. Peminat utamanya adalah tentara pasukan Napoleon dari Prancis, tapi syaratnya sebelum "main kesana" harus di cek kesehatan dulu dan setelahnya juga harus tes berkala agar bebas dari penyakit sipilis .. duhh maak jaah!

Di awal abad 20-an, organisasi keagamaan mulai melakukan kampanye untuk mengakhiri praktik prostitusi, hingga pada tahun 1911 diterbitkan undang-undang yang melarang rumah bordir dan mucikari, tetapi sayangnya prostitusi masih boleh berjalan meski sembunyi-sembunyi. 


Peta Prostitusi Dunia dan Hukum yang berlaku

Ketika itu praktik prostitusi sembunyi dibalik bisnis rumah pijat, salon kecantikan maupun manicure-pedicure. Para pelacur berdiri dibalik tirai sambil mengintip mencari pelanggannya, kalau mereka ketahuan berdiri seperti sekarang (memajang diri di etalase/pintu kaca) maka akan di tangkap.

Praktik prostitusi mulai dilegalkan lagi pada tahun 2000, banyak rumah bordil yang membuka usahanya secara terang-terangan. Bahkan bisnis "window sex prostitution" menjadi penjaring euro bagi Negeri Van Oranje, selain turis yang hanya numpang lewat di kawasan ini, panen euro juga mengalir deras dari kocek turis lelaki hidung belang.




Janji pemerintah ketika keputusan ini diberlakukan adalah menjadikan "Red Light District" sebagai tempat "prostitusi" yang menjamin keamanan dan kesejahteraan para pelacurnya, tapi kenyataannya justru terbalik, wilayah ini justru mengundang banyak problema tidak hanya di Belanda tapi juga Luar Negeri. 

Anda bisa baca tentang pro dan kontra yang terjadi di sini

Cerita Di Balik Museum

Menuju museum ini tidaklah terlalu sulit selama kita punya google maps he he he, Lokasinya seperti yang saya tulis di awal, berada diantara belantara rumah bordir. Kalau anda berkunjung di malam hari suasananya nggak jauh beda dengan kawasan Dolly di Surabaya yang sekarang sudah ditutup

Bekas Gereja di dekat lokalisasi

Bedanya yang paling mencolok adalah lampu neon warna merah yang menjadi ciri khas kawasan ini. Untuk masuk ke Red Light Secret Museum, anda bisa membeli tiket langsung di lokasi atau melalui agent penjual tiket yang banyak dijumpai di kawasan pertokoan Amsterdam.







Agen penjual tiket yang paling terkenal adalah Tours & Tickets, mereka punya banyak penawaran baik tiket museum maupun tempat-tempat wisata seperti Volendam dan Zaanse Schaan yang terkenal dengan wisata Kincir Anginnya.

Sekali lagi terima kasih kepada Marintan atas ajakannya mengunjungi museum ini, kalau nggak ada Marintan mungkin saya nggak pernah bisa nulis artikel ini he he he. 




Lanjut ya.. Suasana museum malam itu cukup ramai, kita datang mendekati waktu tutup museum. Museum ini buka mulai jam 11 pagi sampai jam 12 malam, harga tiket online dijual lebih murah daripada yang offline.

Harga tiket yang ditawarkan mulai dari 8 Euro hingga 12.50 Euro tergantung dimana kita membelinya. Menurut rekomendasi dari beberapa teman, museum ini lebih menarik daripada Sex Museum tapi kalau anda penasaran dua-duanya boleh dicoba .. eh dikunjungi maksudnya! :D

Museum ini menceritakan tentang lika liku kehidupan pekerja sex dan berbagai macam "petualangan kelamin" melayani tamu-tamu dari berbagai belahan dunia. Di museum ini juga ditunjukkan video tipe-tipe pengunjung dan alasan para pekerja sex melakukan pekerjaan ini.

Perlu diketahui bahwa pelacur di Belanda juga memberikan sumbangsih untuk pembangunan Negeri Angin ini melalui pembayaran pajak penghasilannya. Miris dan menyedihkan adalah kesan yang saya tangkap ketika memasuki museum ini.

Sebagai seorang perempuan tentu saya merasa iba melihat perempuan-perempuan penjaja sex, tapi ternyata ada perempuan yang justru menikmati pekerjaan ini sebagai profesi layaknya seorang dokter menangani pasiennya.

Ada juga perempuan yang melakukan pekerjaan ini karena faktor ekonomi, bahkan ada yang sudah bersuami tapi suaminya "rela" dan bangga dengan pekerjaan istrinya sebagai pelacur .. Duhh Gustiii 



Tapi dari sekian persen perempuan yang secara sadar menjadi pekerja sex, 90 persen sisanya kebanyakan terjebak penipuan trafficking alias jual beli manusia. Rata-rata perempuan-perempuan tersebut berasal dari Negara Eropa Timur yang dijanjikan menjadi penari di Amsterdam, tapi akhirnya berakhir menjadi pelacur dan tidak bisa keluar dari dunia pelacuran.

Kisah tragis lainnya adalah penculikan remaja yang sering terjadi juga di Negara-negara Baltic seperti Ukraina, Lithuania dan sekitarnya. Gagis-gadis dari Negara ini dikenal cantik tinggi semampai berkulit bersih dan itulah yang menjadi "daya jual" di industri ini.

Melayani Ratusan Pelanggan

Museum Red Light Secret merupakan bekas rumah bordir, pemiliknya seorang perempuan Belanda blasteran Cina bernama Anna Zentveld yang menjadi korban pembunuhan oleh pelanggannya. 





Setiap pengunjung akan dibekali voice guide yang akan memberikan penjelasan setiap kali memasuki ruangan-ruangan museum ini. Tinggal tap alat tersebut pada mesin yang tersedia di setiap ruangan lalu dengarkan suara pada alat tersebut.

Semakin masuk ke dalam museum, anda akan menemui banyak hal yang (menurut saya) menyedihkan sekaligus mengerikan. Beberapa ruangan menampilkan pernak pernik sex toys yang digunakan untuk memuaskan imajinasi pelanggannya ketika berhubungan badan.

Ada rantai, cambuk, topeng, pasung bahkan kostum-kostum aneh yang biasa digunakan pelacur ketika melayani pelanggannya. Selain itu di museum ini juga ada display kamar yang digunakan untuk "transaksi kelamin" beserta suasana kamar PSK sehari-hari ketika sedang tidak bertugas.


Voice Guide


Di ujung kamar terakhir terpampang juga data-data prostitusi di berbagai Negara beserta informasi mengenai penyakit kelamin, HIV AIDS yang tersebar akibat dari bisnis esek esek ini. 

Bahkan ada space khusus yang disediakan sebagai tempat "in memoriam" untuk mengenang nama-nama pelacur korban pembunuhan oleh pelanggannya, lengkap disertai nama dan kisah-kisah tragisnya.

Yang membuat saya terkejut, ada dua nama Indonesia yang terpajang di papan tersebut. Meski usianya sudah tak lagi muda tapi tetap mereka adalah saudara kita yang mungkin "harus" terlibat dalam industri ini, entah karena faktor terpaksa maupun hal lain .. saya tidak tahu pasti.


In Memoriam Board


Semoga tidak ada lagi korban-korban pembunuhan dan harapan saya .. semoga Belanda juga seberani Ibu Risma, walikota Surabaya, yang mampu dan berani menutup kawasan prostitusi terbesar ketika itu di Surabaya Jawa Timur Indonesia!

Di akhir perjalanan saya mengunjungi museum ini betapa saya membayangkan "ancaman serta tantangan hebat" yang dialami Ibu Risma ketika beliau menutup lokalisasi Surabaya, saya yakin Bu Risma juga tidak bekerja sendiri, tapi didukung juga oleh masyarakat setempat beserta alim ulama.

Lalu bagaimana di Belanda? yang serba rumit dengan masyarakat yang sangat beda dari Surabaya! Ya .. jawabannya hanya Tuhan yang tahu :D

Nah bagi anda yang ingin jalan-jalan ke Belanda .. yuk bisa kontak saya jika ingin dibantu "arrange ticket dan tour" nya .. asal kontan ya hehehe no cicilan apalagi utang yes!

3 comments:

  1. ngenteni aku dadi walikota amsterdam lek ngono ben iso tak bubarno.
    tapi lek nga iso dadi walikota yo minimal dadi anggota avengers lah..

    ReplyDelete
  2. kalo di kasih kesempatan. saya akan buka pabrik tape dan akan jualan tape bondowoso di red district . siapa tau teteh2 geulis disana beralih profesi jadi tukang jual tape.
    pe tapee pe tapeee tak iyee.. begitulah suaranya yg genit saling bersahut sahutan.

    ReplyDelete
  3. gedung museumnya khas rumahkuno di eropa ya

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, sampaikan salam anda disini ya :)