Sejatine Urip Mung Ngampung Dolan

Responsive Ads Here

Tuesday, December 17, 2019

Ngobrol Cinta dengan Cak Nun dan Kyai Kanjeng di Belanda


Saya mengenal sosok Cak Nun lebih pada karya kaset shalawat di tahun 90an bersama Kyai Kanjeng. Album berjudul Jaman wis akhir adalah kaset pertama yang saya tahu.

Selain itu setiap ada EMHA di layar TV, ibu saya selalu menimpali.. oh iki wong nJombang, tonggo desa-ne ibu! kemudian beiau berbangga-bangga menceritakan bahwa kota kelahirannya banyak melahirkan kyai serta orang-orang hebat seperti Cak Nun ini, lalu ayah saya pun biasanya langsung ngece .. Njombang yoh sarange maling! entah merasa iri karena Bondowoso belum melahirkan orang-orang hebat atau hanya bagian dari kemesraan.

Saya hanya bengong karena juga tidak terlalu paham tentang siapa itu Cak Nun, sampai akhirnya saya berangkat kuliah dan indekos di Kota Jember, kaset pita shalawatan Cak Nun ini menjadi kaset yang saya putar hampir setiap hari dengan Tape Cassette (radio tape) kecil hadiah dari Rinso, karena ibu saya memajang produk Rinso di toko kelontong kami di Bondowoso.

Suara radio tape cempreng ketika dikecilkan volumenya, tiba-tiba suara menghilang, kalau dibesarkan sontak melebihi suara TOA masjid dan baru normal ketika digetok dengan penggaris. Seringkali Almarhum Bapak kos menyindir dengan kalimat yang saya tidak paham maksudnya.. Rik aku loh yo duwe kaset shalawat cak nun.. ternyata maksud beliau kalau muter kaset jangan keras-keras suaranya!

Ah .. masa yang penuh kenangan! Sekaligus masa ketika beberapa mbak Kos memulai misi misionaris menyelundupkan pemahaman-pemahaman agama Islam sayap kiri pada benak ini hingga akhirnya saya mulai belajar Islam "introvert" yang jauh berbeda dengan apa yang saya pelajari di langgar kampung ketika kecil.

Islam Introvert hanya sebutan saya saja ya, karena di dalam komunitas itu hanya mau "berteman" dengan orang yang sepaham, satu guru, satu komunitas dan bahkan menikah pun juga harus dari aliran yang sama!


Maka mengalirlah saya bersama arus tersebut hingga membawa saya ke Kota Gresik selama satu tahun kemudian pindah ke Surabaya yang semakin menggelorakan semangat belajar tentang Islam. Shalawatan ala Cak Nun tak lagi menjadi hiasan radio tape karena beralih pada nasyid yang katanya musik itu haram dan melantunkan shalawat itu bid'ah'!

Betapa merana-nya batin saya, tapi karena takut menjadi domba yang tertinggal dari kerumunan dan ingin mendapatkan laki-laki soleh idaman, akhirnya saya tetap mengikuti arus berenang-renang dalam kepayahan batin.

Sesekali saya membaca info pagelaran bang-bang wetan melalui tweeter, yang menampilkan Cak Nun dan Kyai Kanjeng di salah satu gedung tua Kota Surabaya, ketika itu saya belum mengenal apa itu maiyah, saya pikir itu adalah pentas teater yang memang rutin diselenggarakan di Kota Surabaya.

Hati saya bersorak ingin datang menonton acara tersebut, tapi entah mengapa selalu terhalang juga karena masih kos, takut pulang malam. Selain itu juga salah satu "guru" yang sepertinya berusaha mencegah serta berusaha men-sensor, buku-buku yang saya baca. Pernah suatu ketika saya membawa buku karya Quraish Shihab, lalu tatapan suami guru saya berubah sinis, dan "berucap hati-hati dengan penulis itu", karena alirannya syiah. Padahal saya sangat suka membaca karya-karaya beliau, salah satunya adalah buku Tuhan ada di mana-mana.

Kehidupan beragama saya menuju titik kejenuhan ketika tidak ada lagi siraman rohani belajar ngaji seperti di awal-awal ikut komunitas ini. Komunitas ini berubah menjadi komunitas partai yang sibuk mencari suara dari pintu ke pintu rumah-rumah orang pinggiran. Berdalih berbuat baik dan berdakwah, berbakti sosial dengan menyuarakan ayat berlomba-lomba berbuat kebaikan, berinvestasi akhirat, membelanjakan harta di jalan Tuhan dan sebagainya!

Tapi lupa mengurus anak-anak yang mulai remaja, lupa mengunjungi orang tua di kampung, lupa tetangga sebelah punya hajatan disebabkan terlalu sibuk mengumpulkan KTP dan membagikan bingkisan yang mereka sebut direct selling. Apalagi di bulan Ramadhan, aktivitas semakin melonjak gila-gilaan.

Mulai dari target hafalan quran, shalat sunnah, berlomba-lomba khatam Al Quran minimal 3x bahkan ada yang 5x dalam sebulan, bersedekah, qiyamul lail, berbuka bersama dan agenda-agenda lain yang menyita waktu, tenaga juga kantong. Lalu saya bergumam .. Islam kok repot sekali ya!

Oh ya kami juga di target untuk mencari ïnfaq dan zakat dengan mengedarkan lembaran-lembaran formulir dari salah satu lembaga amil zakat yang berafiliasi dengan komunitas ini, bayar zakat dan sedekah harus lewat lembaga itu. Ya bener sih zakat itu wajib, tapi... niat dan tujuannya itu yang akhirnya membuat amalan-amalan yang dikerjakan itu kok jauh dari perintah Allah dan Rasul-Nya.


Hmm .. ada banyak cerita yang sebenarnya ingin saya sampaikan, tapi biarlah itu menjadi bagian dari pengalaman beragama dan berorganisasi saya, karena saya tidak ingin membuka aib orang lain. Kehidupan rohani yang kering karena agama hanya berupa perlombaan materi mencari pahala membuat saya terpental dari komunitas ini.

Keluar dari komunitas ini, saya sempat bertemu beberapa penganut Islam dengan berbagai corak yang lebih mendalami hal-hal ghoib, kejawen, dan sebagainya. hingga akhirnya bertemu Cak Nun kembali melalui video-video youtube channel juga sempat hadir pada acara Sinau bareng di Bondowoso.

Entah magnet apa yang menarik saya untuk terus mengikuti video-video rekaman Cak Nun baik yang sinau bareng, bang-bang wetan, padhang bulan, mocopat syafa'at hingga kenduri cinta Jakarta. Semakin saya mengikuti episode-episodenya semakin teduh batin ini, sampai-sampai saya pernah mimpi didatangi Kyai Muzzamil, hingga akhirnya saya diberi kesempatan untuk bisa sowan beliau meski baru lewat whatsapp.

Perkenalan dengan maiyah berlanjut ketika saya melihat salah satu episode mocopat syafa'at', Cak Nun mengabarkan bahwa akan ada maiyah di Belanda, namanya mafaza. Buru-buru saya googling dan ketemu akun instagram @mafazaeropa dengan info event yang akan diselenggarakan di Amsterdam bersama Dokter Eddot.

Kebetulan pulang kampung bulan Agustus kemarin, saya menyempatkan diri "kulakan buku-buku" Cak Nun dan Mbah Tedjo. Saya hadir di acara maiyah Belanda sekaligus ingin minta tanda tangan dari Dr. Eddot, dokter yang merawat Cak Nun ketika gerah sekaligus yang menjadi salah satu nara sumber pada buku Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib karya Dokter Ade Hasman.

Mafaza Eropa
Sejak itulah saya benar-benar hadir dalam simpul maiyah, bertemu dengan orang-orang luar biasa namun tetap teduh dan membumi. Sinau bareng tentang Islam, Allah dan Rasulullah dengan cara yang tidak pernah saya temui sebelumnya.

Buku kedua yang saya baca ini, Allah tidak Cerewet seperti Kita, karya Cak Nun semakin membuka cakrawala berpikir saya tentang bagaimana menjadi muslim, berislam dan tentunya menjadi manusia yang ditakdirkan Tuhan lahir di Jawa kemudian ngampung dolan hidup di Belanda bersuamikan orang keturunan Curacao - Suriname.

Membaca buku ini seolah saya sedang duduk bersimpuh mendengarkan Cak Nun bercerita seperti pada simpul-simpul maiyah pada umumnya, tarsenyum, tertawa bahagia, kemudian meneteskan airmata karena ketakjuban pada kebesaran Tuhan, hingga beretorika pikiran menulis pertanyaan-pertanyaan dari jawaban kehidupan yang sedang saya alami.


Secara pribadi saya tidak kenal dengan Cak Nun dan Kyai Kanjeng, tapi hati saya jauh lebih mengenal beliau-beliau melalui shalawat-shalawat cinta yang dulu saya dengarkan dari sebuah kaset dan radio tape cempreng di sudut kamar kos Kota Jember.

Tak pernah terpikirkan oleh saya keberkahan lantunan shalawat dan energi cinta Rasulullah itulah akhirnya yang memeluk hati ini untuk kembali pada jalan-jalan sunyi menuju Tuhan .. Ahh Tuhan memang Maha Asyik seperti kata guru Cak Nun, Mbah Sujiwo Tedjo! Betapa kehidupan itu penuh ketidak pastian menuju kepastian yaitu Mati.

Tulisan ini selesai disambut hujan gerimis dan suara guntur yang menyapa langit gelap Kota Almere pagi ini, Allahuma Sholli Ala Muhammad .. Ya Habibika Rasulullah Muhammad semoga keberkahan ilmu dan iman ini terus mengalir

Sabtu Pon, 14 Desember 2019
Kota Almere Belanda

1 comment:

  1. Hahahaha, kasetttt :D
    Saya ingat punya walkman ya kalau nggak salah namanya, itu sebutan alatnya atau mereknya ya? :D

    Sayangnya saya jarang nih liat videonya, saya tahunya Cak Nun bapaknya penyanyinya Letto yang suaranya mendayu-dayu itu :D

    Kayaknya saya pengen beli bukunya deh, kok menarik juga, judulnya udah bikin kepo.

    Oh ya, jadi ingat, dulu waktu kuliah memang benar tuh, saya sering banget pengen berteman sama orang-orang alim (baca : yang berjilbab), tapi saat itu saya belum berjilbab, dan setiap kali kami ke masjid kampus untuk mengaji (tugas mata kuliah Agama Islam), rasanya kok para wanita berjilbab itu kurang ramah terhadap kami, seolah mereka membentengi dirinya dari orang-orang belum berjilbab kayak saya.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, sampaikan salam anda disini ya :)